Madinah Masa Dinasti Umawiyah

Pada zaman dinasti Umawiyah, Madinah merupakan kota yang tenang. segala urusan pemerintahan di kota tersebut dipercayakan kepada Marwan bin al-Hakam yang dipilihnya menjadi gubernur Madinah. Selain itu dalam masa ini terkenal dengan pengaktifkan aliran mata air Zarqo sebagai Sumber air minum dan pengairan kebun penduduk madina (dan sampai saat ini mata air tersebut masih digunakan sebagai salah satu sumber mata air di madinah selain mendirikan markas-markas penyulingan air laut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat madinah)

Ketegangan terjadi setelah Muawiyah meninggal pada tahun 60 H dan digantikan putranya Yazid bin Muawiyah. Kegoncangan, ketegangan terjadi menyelimuti kota sehingga muncul fitnah dimana-mana - sehingga mendorong masyarakat untuk melepaskan diri dari dinasti Umawiyyah. Tatkala zubair menyatakan khalifah, masyarakat madinah pun membaiat beliau. Peperangan demi peperangan terjadi dalam masa ini sehingga akhirnya Yazid bin Muawiyah dan ibnu zubair terbunuh, cerita lengkap mengenai hal tersebut baca di postingan sebelumnya Mekah masa Dinansti Umawiyah

Sekitar tahun 73 H semua urusan kembali ke Bani Umayyah (Dinasti Umawiyah) - ketenteraman muslim kembali terwujud di kota madinah. Dimana segala urusan pemerintahan, pendidikan dan pembangunan kota sangat diperhatikan. "Atho" yang biasa dibagikan sejak jaman Muawiyyah pun mulai diaktifkan kembali. Atho adalah pembagian harta benda kepada orang dan kalangan yang berhak menerimanya.

Madinah mencapai zaman keemasan pada masa ini yaitu tatkala Umar bin Abdul Aziz memegang pucuk pimpinan yaitu sekitar tahun 86 H - 91 H atau sekitar 705-709 M dimana pada saat itu dibangun banyak tempat untuk kegiatan keagamaan, renovasi mesjid nabawi, Pembangunan gedung-gedung bangunan dan perkembangan perdagangan yang amat pesat.
Powered by Blogger.