Mekah Zaman Dinasti Abbasiyah


Mekah pada zaman dinasti Abassiyah dibagi menjadi 3 zaman 3 fase. Dinasti abassiyah ini menguasai pemerintahan islam baik Madinah dan Mekkah mulai tahun 749 M (132 H) sampai dengan tahun 1258 M (656 H).

Mekah Zaman Abassiyah
Masing-masing fase pada zaman abassiyah ini mewakili apa yang terjadi pada masa tersebut

Fase Keterikatan dengan Abbasiyin

Fase dinansti Abaasiyah  adalah mulai tahun 132 H hingga tahun 363 H. Pada masa ini ketenangan Mekah al Mukarromah datang silih berganti dengan kegoncangan politik. Pada fase ini terjadi pemberontakan awaliyyin yaou pemberontakan yang diciptakan oleh orang-orang keturunan Ali. Pemberontakan-pemberontakan yang mereka lancarkan selalu tidak berhasil dan hanya membuat kegoncangan politik Mekah Al Mukarromah.

Lain halnya pada masa berhaji - dalam masa ini masa berhaji merupakan masa yang mendatangkan kenyamanan untuk penduduk Mekah. Harta-harta banyak dibagikan oleh pejiarah haji, khususnya yang berasal dari khalifah abbasiyin.

Pada masa pemerintahan Abbassiyin banyak sekali peninggalan-peninggalan sejarah yang bisa dilihat oleh kaum muslim seluruh dunia hingga saat ini.
  1. Pembangunan Mata Air Zubaidah, yaitu mata air yang langsung dialirkan dari Irak ke Padang Arafah. Pembahasan mendetail mengenai hal ini akan dibuat terpisah
  2. Pemakmuran dan Perluasan Masjidil Haram
  3. Perluasan Abu Ja'far al manshur dan Al Mahdi
Kejadian penting pada masa dinasti Abassiyin di Mekah adalah dicurinya Hajar Aswad oleh para kelompok syiah golongan Qaromithah dan para pendukung Fathimiyin yaitu sekitar tahun 317 H atau sekitar tahun 930 Masehi.

Kejadian penting lainnya pada masa ini adalah diserahkannya pemerintahan Mekah dan Madinah ke bangsa Mesir khususnya ke Akhsyadiyyin pada tahun 331 H. Pada masa tersebut Mekah mengalami kekacauan yang teramat sngat dikarenakan peperangan yang dilakukan oleh kaum Akhyadiyyin dengan Bani Ro'iq. Akibat peperangan tersebut rakyat Mekah hidup menderita selain kekacauan demi kekacauan terjadi dimana-dimana. Akibat hal ini dikeluarkanlah larangan untuk melaksanakan Ibadah Haji selama 6 tahun yaitu tahun 332 Hijriah sampai dengan tahun 338 Hijriah.

Fase Keterikatan Dengan Fathimiyin

Fase ini terjadi pada tahun 358 H sampai dengan 546 H. Pada Masa ini Mekah mengalami zaman yang sangat mengkhawatirkan. Dimana pada fase ini semua bidang keilmuan melemah, antar pemuka agama islam tercerai berai, harga-harga naik tidak terkendali, pajak tinggi diwajibkan kepada para Jamaah haji.

Fase ini dimulai sejak runtuhnya Akhsyandiyyah di Mesir ke tangan Fathimiyin. Sejak itu kekuasaan Mekkah dipegang dan dibangunlah pemerintahan Asyraf di kota Mekah. Asyraf adalah Keturunan nabi Muhammad SAW dari Fathimah. Golongan Asyrah dan pemuka islam di kota Mekkah tunfuk ka Fathimiyin hanyalah merupakan formalitas belaka.

Pemerintahan yang dijalankan Fathimiyin dinilai gagal oleh rakyat arab, sehingga mereka tidak mempercayai akan pemerintahan yang berkuasa - namun akibat ketakutan dan kekacauan, diterimanya hadiah-hadiah dari golongan Fathimiyin dan berdoa untuk golongan Fathimiyin di mimbar-mimbar adalah merupakan formalitas belaka.

Fase Keterikatan dengan Zinkiyin dan Ayyubiyin

Pada masa ini rakyat Mekah mulai merasakan kedamaian kembali. Sulthan Nuruddin Zinki sangat peduli terhadap kehidupan rakyat Mekah pada saat itu. Pada zaman Zinkiyin ini  dikirimlah harta yang berlimpah ke kota Mekkah untuk pembiayaan infrastruktur kota Mekkah seperti perbaikan-perbaikan jalan untuk sarana ibadah haji, dan perbaikan lain dalam sektor pembangunan.

Masa ini dilanjutkan oleh Sholahuddin al Ayyubi. Malah pada masa ini selain pemerintahan meneruskan kebijakan dari pemerintah Zinkiyin yang berkuasa sebelumnya, Ayyubiyin menambah gebrakan baru dengan mengirimkan harta yang banyak kepada kabilah dagang sebagai ganti dari pembayaran Pajak untuk para jamaah haji. Pada masa ini para Jamaah haji sudah mulai terbebas dari pungutan pajak.

Powered by Blogger.