Pengalaman Testing Petugas Haji

Tahun 2011 saya mencoba keberuntungan, dengan testing calon petugas haji. Ada tiga pilihan yang bisa diambil. Pertama TPHI, kedua TPIHI dan ketiga PPIH atau disebut juga dengan istilah NK. TPHI adalah singkatan dari Tim Pemandu Haji Indonesia yang akan bertugas sebagai pemandu kloter, membawahi sekitar 450 orang calon jamaah haji. Adapun TPIHI adalah Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia, sama dengan TPHI membawahi satu kloter, hanya tanggung jawabnya adalah untuk urusan ibadah mahdoh, sehingga memastikan bahwa seluruh jamaah haji bisa melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji dengan sempurna. Kalau PPIH adalah Panitia Pelaksana Ibadah Haji Indonesia, atau disebut juga dengan istilah NK singkatan dari Non Kloter, karena tanpa kloter. PPIH ini tidak membimbing jamaah haji, tetapi menyediakan fasilitas, untuk di Makkah, Madinah, atau Jeddah. Jangka watunya juga agak panjang, yakni 76 hari untuk di Jeddah dan Madinah, sedang untuk di Makkah hanya 66 hari.

Pengalaman PPIH di Kota Mekkah

Dari ketiga pilihan itu, saya lebih tertarik untuk memilih PPIH, yaitu Panitia Pelaksana Ibadah Haji atau disebut NK (Non Kloter) karena tidak mengikuti kloter sebagaimana jamaah haji yang lain. Hal tersebut didasari pengalaman yang sudah, selama sekitar dua tahun, saya bermukim di Saudi Arabia tepatnya di derah Thaif yakni antara tahun 1994 sampai 1996. Walaupun sudah berselang lima belas tahun, namun tentu ada pengalaman yang akan bermanfaat.

Pelaksanaan test pun sudah dilaksanakan di tingkat kabupaten dimana saya tinggal, dengan melampirkan kode NK di kanan atas lembar jawaban, berarti saya sudah memilih bidang PPIH. Alhamdulillah saya bisa menyisihkan tujuh orang peserta test lainnya, tinggal menunggu test di tingkat provinsi yang sudah tentu bobot kesulitannya melebihi tingkat kabupaten. Di Bekasi testing tingkat provinsi Jawa Barat dilaksanakan yang diikuti oleh sekitar 50 orang (khusus program NK), dari 50 orang diambil 14 orang, Alhamdulillah saya lolos dan berhak mengikuti pelatihan di Asrama Haji Pondok Gede Bekasi.

Sepuluh hari saya digodok di Pondok Gede bersama (dari tanggal 28 Juni sampai tanggal 7 Juli 2011) dengan sekitar 850 orang lainnya, yang terdiri dari unsur Kemenag, Dinkes, Angkatan Darat, Laut dan Udara, juga dari instansi terkait. Pelatihan yang bukan hanya menguras stamina, tetapi juga mental dan fikiran. Dari jam 4 Subuh, yang diawali dengan Shalat berjamaah Shubuh, Kultum, manasik, senam pagi, sudah barang tentu yang paling utama adalah materi persiapan untuk penerimaan jamaah haji di tanah suci. Selesai sekitar pukul 23, baru istirahat merebahkan diri untuk persiapan aktivitas besok harinya.

Selesai pelatihan selama sepuluh hari, saya kembali ke kampung halaman dengan segudang ilmu dan pengalaman yang siap diaplikasikan pada saatnya nanti. Saya baru merasakan pelatihan yang betul-betul diikuti dengan serius, dipersiapkan untuk menjadi pelayan jamaah haji secara professional. Sehingga akan rugi kalau melewatkan satu materi juga.
Powered by Blogger.