Suasana di Hotel Calon Jamaah Haji Indonesia

Saya tidak sempat menghafal nama-nama hotel yang akan ditempati calon jamaah, karena sudah berlogo bendera Indonesia dan bernomor dari 101 sampai 111 hasil kerja petugas sebelumnya. Angka 1 pertama adalah sector, sehingga untuk sector 2 diawali dengan angka 201 dsb, begitu juga untuk sector 3 diawali dengan 301. Begitu dan seterusnya sampai sector 11. Hotel-hotel yang berada di sector I rata-rata hotel yang besar, yang paling kecil saja berkapasitas 800 orang. Sedangkan yang paling besar, dengan 17 lantai berkapasitas 2500 orang jamaah.

Suasana Maktab Haji Indonesia

Hotel 108 yang saya tempati, terdiri dari 16 lantai. Biasanya lantai paling bawah tidak diisi, melainkan sebagai gudang atau Musholla biasanya disebut daurul Ard orang Arab menyebutnya dor Ard. Adapun lantai kedua hanya dipergunakan untuk tempat istirahat atau menyimpan barang jamaah sebelum masuk kamar disebut daurul Mizan orang Arab menyebutnya dor mizan. Setelah itu baru lantai 1 dan seterusnya sampai yang paling atas. Di hotel 108 diawali dengan istiqbal (loby) disana dipasang sekitar 4 set kursi tamu, dipasang juga televisi LCD 42 inci di dinding. Disebrang kanannya dengan disekat kaca, adalah kantor sector 1 dengan 4 perangkat meja kantor dan kursi tamu. Tiap ruangan ber-AC.

Masuk ke lorong belakang adalah kamar dokter dan tim kesehatan, bersebrangan dengan kamar perawatan jamaah sakit. Ditata demikian, sengaja untuk memudahkan menangani jamaah yang sakit. Setelah itu adalah kamar-kamar petugas PPIH, dengan kapasitas 4 kasur tiap kamar. Untuk masuk 3 atau 4 kamar ada pintu yang disebut sugh. Biasanya dalam satu sugh itu ada 2 kamar mandi lengkap dengan dua mesin cuci, dan satu mathbakh (dapur) umum. Seluruh kamar mandi ada fasilitas air dingin dan panas, namun karena daerahnya bersuhu panas maka dinginnya juga tidak sedingin di tanah air. Closet WC nya juga rata-rata closet duduk.

Di kamar yang saya tempati ada lemari es dan televisi, namun tidak semua kamar ada kelengkapan seperti itu. Tergantung tingkat keberuntungannya saja. Di dapur (mathbakh) sudah disediakan kompor listrik, tempat menanak air listrik, juga gula, kopi, susu serta teh, disediakan bagi siapa saja yang ingin membuat sendiri. Tapi kami tidak perlu menanak nasi, karena tiap pagi, siang dan sore ada catering yang selalu mengantarkan makan kepada seluruh petugas, lengkap dengan buah-buahan untuk cuci mulut.
Powered by Blogger.