Allah Memberi Kekuatan

Letih dan lelah setelah perjalanan beberapa kilometer, kaki terasa berat untuk dilangkahkan. Badan pun terasa sakit dari ujung ke ujung. Sampai di hotel mata ini sudak tidak tahan menahan kantuk. Saya langsung merebahkan badan di atas tempat tidur, lelap sekali. Mendengar adzan dzuhur di mesjid terdekat saya bangun.

Subhanallah, badan terasa ringan. Letih dan lelah tidak terasa lagi. Padahal kalau di tanah air sepertinya tiga hari tidak akan hilang. Ternyata Allah SWT yang memberi kekuatan kepada kami untuk melaksanakan syariat-Nya. Betapa tidak, kami masih harus melaksanakan beberapa kewajiban haji seperti mabits di Mina dan Jamarot dari mulai jumrah ula, wushto dan aqobah. Itupun harus dilaksanakan dua hari dua malam bagi yang mengambil nafar awwal, atau tiga hari tiga malam bagi yang mengambil nafar tsani.
Tidak ada Tuhan Selain Allah

Terdiam sehabis shalat dzuhur berjamaah, saya merenungkan para jamaah haji yang berusia lanjut (ada yang berusia diatas 90 tahun). Bahkan banyak yang menggunakan kursi roda. Bukan hanya dari tanah air, saya melihat jamaah dari Turki usianya banyak yang sudah tua sekali. Tapi mereka bersemangat untuk menyelesaikan tahapan demi tahapan pelaksanaan ibadah haji ini.

Teman-teman petugas sector I kebanyakan melaksanakan mabits di Mina pada gelombang I (dari terbenam matahari sampai melewati tengah malam), namun saya berinisiatif untuk berangkat pada gelombang ke II (dari sebelum tengah malam sampai menjelang waktu shubuh), dengan alasan menjaga tamu-tamu yang datang ke kantor, terutama jamaah yang sesat jalan. Ternyata benar, sekitar jam 21 watu setempat ada tiga orang jamaah yang diantar oleh mukimin, tidak tahu arah pulang ke pemondokan di Mina. Saya terima, dan diberi makanan alakadarnya sambil menunggu bersama saya berangkat ke Mina nanti. Sekitar pukul 22, datang lagi petugas yang jaga di jalan. Mengantarkan 2 orang jamaah sesat jalan. Jadi jumlahnya lima orang.

Pukul 23 waktu setempat, saya berempat dengan pak Suharjo (dari PPP), pak Prayitno (dari PBNU) dan pak Nur Zamzam (dari RS Haji Pondokgede) berangkat, dengan menyertakan lima orang jamaah sesat jalan yang usianya rata-rata di atas 70 tahun itu. Pukul 23.30 rombongan sampai di perbatasan, sesuai prosedur kami menyerahkan jamaah sesat jalan kepada petugas Mina (adalah petugas dari Sektor Madinah), karena mereka yang lebih memahami peta wilayah Mina.

Saya beserta rombongan segera mencari tempat untuk bermukim. Sulit rasanya bagi saya bagaimana menggambarkan suasana di Mina pada malam itu. Jutaan manusia berjejer tidur di tempat-tempat terbuka, sementara yang lainnya lalu-lalang untuk mencari keperluannya seperti ke rumah makan (mat’am) sekedar untuk menghangatkan perut, atau hanya untuk buang air di WC (hammam), adalah ruangan berlantai dua dengan ukuran sekitar 50 x 20 m. didalamnya adalah kamar-kamar WC yang sangat banyak. Untuk ke WC saja harus mengantri sampai satu jam saking banyaknya jamaah.

Setelah melihat petunjuk arah yang bertuliskan batas Mina, maka saya membawa rombongan memasuki wilayah Mina. Khawatir mabits di tempat yang salah. Saya menerobos kerumunan jamaah, terus berjalan sampai mendapatkan tempat yang dianggap layak untuk beristirahat. Di depan bangunan yang banyak dijaga oleh yang berseragam pulisi (syurtoh), entah kantor apa tidak sempat untuk bertanya, saya menemukan tempat kosong kira-kira cukup untuk berempat, kami-pun segera berbenah dengan menghanparkan tikar yang dipersiapkan dari hotel tadi. Alhamdulillah, kami semua langsung berbaring melihat indahnya langit-langit kota Mina yang penuh dengan cahaya bintang-gemintang. Di pinggir kanan saya sedang duduk jamaah dari Turki mungkin sekeluarga, karena ada bapak-bapak yang sudah tua, ibu-ibu yang sudah tua dan anak perempuan yang masih muda dua orang. Mereka mengobrol, dengan bahasa mereka yang sama sekali tidak ada yang bisa dimengerti oleh saya. Suara merekapun semakin tidak terdengar, mengecil-mengecil sampai hilang dari pendengaran. Saya pun tertidur pulas. Bangun pada pukul 05 menjelang shubuh (karena jadwal Shubuh pada pukul 05.30), saya beserta rombongan segera membereskan perlengkapan untuk persiapan pulang ke hotel. Adzan subuh pun berkumandang, disaat kami masih di perjalanan.
Powered by Blogger.