Awas...Jebakan Onta Hias !!

Jebakan Onta Hias
Di sela-sela kesibukan melayani jamaah haji, saya beserta team membuat program untuk mengunjungi tempat-tempat yang akan dikunjungi pada saat ARMINA nanti, sekaligus survey lokasi agar pada saat hari Arafah nanti tidak terlalu kebingungan.Petugas sektor pun dibagi dua bagian, karena harus ada yang piket di kantor mengantisipasi adanya persoalan yang perlu dibantu oleh petugas sector I.

Tanggal 25 oktober 2011, pukul 07 waktu setempat rombongan pun berangkat, dengan tujuan meninjau suasana Arafah, Muzdalifah dan Mina (ARMINA). Subhanallah, kami semua merasa kagum akan kebesaran Allah SWT, begitu sampai ke tempat-tempat bersejarah sebagai napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan putera tercintanya Ismail AS.

Di Arafah rombongan turun untuk menaiki jabal Rahmah (bukit kasih sayang) adalah bukit tempat pertemuan Nabi Adam AS dan Siti Hawa, ketika diturunkan ke alam dunia ini. Di atas bukit yang terjal dengan bebatuan besar itu ada sebuah tugu, dan disanalah sambil menghadap kiblat, dianjurkan untuk memperbanyak do’a terutama untuk minta jodoh (bagi yang masih single) atau yang berhasrat menambah isteri lagi. maka sebagian rombongan ada yang menaiki bukit tersebut, sementara sebagian yang lain hanya menunggu di bawah bukit, sambil membeli jajanan yang tersedia di sana.

Di depan rumah-sakit Arafah yang hanya beroperasi tiap tanggal 9 Dzulhijjah (setahun sekali). Disana banyak orang Arab berkulit hitam yang menawarkan jasa untuk menunggang onta hias, berkeliling di bawah bukit sambil berfoto-ria buat kenang-kenangan di tanah air nanti. Setengah memaksa si empunya onta menawarkan jasanya terkadang sambil memegang tangan menggusur calon penumpangnya itu. Saya yang ketika itu ditawari, mencoba bertanya: "bi kam?" (berapa?), ’asyara riyal! (sepuluh riyal) jawabnya. Murah (pikir saya) seraya mempertimbangkan naik atau tidaknya. Seperti terhipnotis saya mengikuti tangan si hitam yang menungtun seraya menaikkan saya ke atas unta yang dihias bunga-bunga dari plastic itu. Selangkah… dua langkah… unta mulai mengayunkan kakinya. Sementara sang empunya sibuk memotret saya yang sudah memakai pakaian ala orang Saudi, dalam berbagai fose.

Entah berapa jepretan si hitam itu memotret saya dengan kamera jadul yang otomatis (langsung jadi), sampai di kaki bukit saya memaksa untuk turun, tidak kuat kaki ini pegal. Bi kam ? (berapa?) saya bertanya lagi. miten (dua ratus) jawabnya seraya menghitung jumlah foto hasil jepretannya itu. Leh…ghali marrah! (kok mahal sekali!) Tidak sadar saya bertanya dengan memakai gaya orang Arab. Akhirnya kami pun berdebat tentang ongkos yang diluar perhitungan saya itu. Untung punya pengalaman bergaul dengan orang-orang kulit hitam, jadi tidak terlalu grogi ketika bersitegang tentang sewa onta itu. Akhirnya dengan tidak rela saya pun memberi 50 real, sebagai pengganti ongkos fotografer asal-asalan itu.

Tiba di dalam bis semua teman-teman ramai menceritakan pengalaman dijebak oleh pemilik onta. Bahkan ada yang memberi sampai 200 riyal, hanya untuk naik onta selama 15 menit plus foto-foto dengan memakai pakaian ala Saudi. Padahal andai dihitung di tanah air 200 riyal itu bukan uang yang sedikit, andai satu riyal dihitung 2500 saja, berarti 500.000 rupiah hanya untuk menunggang onta selama sekitar lima belas menit saja. Pengalaman itu saya sampaikan kepada sebagian jamaah haji yang sempat ngobrol, supaya hati-hati jangan sampai kena jebakan onta hias.

Untuk Tips aman lain para jamaah haji dan jamaah umrah silakan baca artikel "Tips Aman Ibadah Haji dan Umrah di  Baitullah"
Powered by Blogger.