Memuliakan Wanita Dalam Islam

Kemuliaan Wanita dalam IslamSebelum Islam hadir di muka bumi, kaum wanita ibarat jiwa yang sangat susah, mereka diperjualbelikan, dipinjamkan, diremehkan, dianggap sesuatu yang bukan berharga dan bahkan dibunuh begitu saja. Dalam kebudayaan lama sebelum Islam, wanita dianggap sebagai pintu syetan, dan layak bertanggung jawab atas kesalahan pria yang pertama diciptakan yaitu "Adam". Wanita dianggap terlaknat sehingga dengan rayuan wanita, Adam diturunkan ke bumi.

Dalam masa jahiliyah arab, wanita adalah makhluk hina, sehingga jika dilahirkan seorang wanita maka bayi wanita tersebut dikubur dalam keadaan hidup hidup, dan hal ini juga diterangkan dalam Al Qur'an Surat An Nahl ayat 59

يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (QS: An Nahl:59)

Kedudukan Wanita Dalam Islam

Setelah Islam hadir, wanita diberikan kedudukan dan kemuliaan da bisa memberikan peranan dalam membangun masyarakat. Islam menerangkan bahwa kaum wanita adalah sekutu pria dalam memakmurkan dunia dan membangun peradaban.

Dalam sebuah Hadist diterangkan, Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya wanita adalah saudara kandung laki laki" (HR Abu Dawud, At Turmudzi (Shahih 2333))

Islam sangat memuliakan wanita, Islam menjelaskan bahwa wanita adalah merupakan makhluk mulia, jenisnya berbeda dengan memiliki keistimewaan yang tinggi. Pemuliaan wanita tersebut adalah sebagai berikut:

  • Persamaan yang sempurna dalam hal pembentukan, kesatuan makhluk, pengadaan, asal dan tumbuh bersama kaum pria

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (QS. An Nissa: 1).

  • Menyamai kaum pria dalam taklif syariat, serta keimanan kecuali dalam hal yang khusus mengingat karakter dan penciptannya
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. (An Nisa:124)
  • Pahala yang besar bagi setiap orang yang mengurusi wanita
Abu Hurairah ra, mengatakan:
"Ada orang bertanya kepada Rasulullah saw," Siapakah yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Beliau menjawab "Ibumu", Ia bertanya, "Siapa lagi?" Beliau menjawab "Ibumu", Ia bertanya "Siapa lagi" Beliau menjawab "Ibumu", Ia bertanya "Siapa Lagi?" Beliau menjawab, Ayahmu!" (HR Bukhori)

  • Kebebasan wanita dalam menentukan dan memilih seorang suami
Rasulullah saw, bersabda: "Tidak boleh seorang wanita (janda) dinikahkan hingga diminta persetujuannya, begitu pula gadis hingga diminta izinnya, dan izinnya adalah sikap diamnya" (HR. Bukhori)

  • Wanita memiliki hak untuk berjihad membela agama seperti kaum pria dengan cara menunaikan Haji dan Umroh

Diriwayatkan oleh Al Bukhori di dalam kitab Al Jihad dari shohihnya (Bab Jihadun Nisaa') dari Aisyah, aku meminta izin kepada Rasulullah saw di dalam berjihad, lalu Rasulullah saw: "Jihad kalian adalah menunaikan haji"

Ibnu Hajar berkata: "Dan berkata Ibnu Bathol: Hadits Aisyah menunjukkan bahwa jihad itu tidak wajib bagi para wanita, akan tetapi bukan berarti sabda beliau "Jihad kalian adalah menunaikan haji" bahwa mereka tidak dapat melaksanakan sunah jihad" (Fat-hul Baari VI/75-76).

Dan di dalam riwayat Ahmad bin Hanbal dari Aisyah dia berkata, aku berkata: Ya Rasulullah, apakah bagi wanita juga berjihad? Beliau menjawab: "Jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, menunaikan haji dan umroh". (dishohihkan oleh Al Albani, Irwaa-ul Gholil V/1185).
Powered by Blogger.