Hajar Aswad

Hajar Aswad adalah batu berwarna hitam kemerah merahan, terletak di sudut selatan sebelah kiri pintu Ka'bah. Ketinggiannya sekitar 1,10m dari permukaan tanah. Ia tertanam di bagian dinding Ka'bah di rukun Hajarul Aswad.

Hajar Aswad

Kisah Hajar Aswad

Dahulu diameter Hajar Aswad adalah sekitar 30cm. Akibat berbagai peristiwa yang menipanya sepanjang masa, kini Hajar Aswad tersisa delapan butir batu kecil sebesar kurma yang dikelilingi oleh bingkai perak. Namun, tidak semua yang terdapat dalam bingkai adalah Hajar Aswad. Butiran Hajar Aswad tepat berada di tengah dempulan dalam bingkai. Butiran inilah yang disentuh dan dicium oleh jemaah haji, jemaah umroh ataupun orang orang yang thowaf mengelilingi Ka'bah.

Dari Hajar Aswad, Thowaf dimulai dan diakhiri. Oleh karena itu, ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa penentuan rukun ditinjau dari eksistensinya sebagai sudut terpenting di Baitullah, yaitu rukun sebelah timur, tempat dimulainya thowaf.

Warna asal Hajar Aswad adalah putih, tetapi bagian yang terlihat di permukaan kini berwarna hitam. Mungkin perubahan tersebut disebabkan oleh kebakaran yang pernah terjadi di ka'bah pada masa kaum Quraisy. Kemudian kebakaran kedua yang terjadi pada era ibnu az-zubair yang mengakibatkan terpecahnya Hajar Aswad menjadi tiga pecahan. Saat membangun kembali Ka'bah, Ibnu Az-Zubair pernah berusaha untuk menahannya dengan perak.

Hajar Aswad adalah Permata Surga

Abdullah bin Amr bin Al Ash berkata, "Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim adalah dua permata yaqut dari surga yang telah dihapus oleh Allah cahayanya. Seandainya tidak demikian, pasti akan menerangi semua yang berada antara timur dan barat".

Hajar Aswad

Abdullah bin Abbas berkata, "Di Bumi ini tidak ada suatu benda dari surga selain hajar Aswad dan batu Maqam Ibrahim. Keduanya termasuk permata permata surga. Seandainya tidak pernah disentuh oleh orang musyrik, maka setiap orang cacat yang menyentuhnya, pasti akan sembut atas izin Allah."

Abu Ararah berkata, "Hajar Aswad terletak di dinding Ka'bah. Jarak antara Hajar Aswad dan tanah adalah dua sepertiga hasta dan posisinya terletak di sudut utara"

Muhammad bin Ali menjelaskan, "Ada tiga jenis batu yang berasal dari surga, yaitu Hajar Aswad, Maqm Ibrahim dan sebuah batu bani Israil"

Iyadh berkata, "Hajar Aswad adalah batu yang dimaksud oleh Nabi SAW saat beliau bersabda, "Sesungguhnya aku tahu ada sebuah batu yang dulu memberi salam kepadaku. Ia adalah permata yaqut yang berwarna putih, lebih putih dari susu. lalu Allah mengubahnya menjadi hitam akibat berbagai dosa anak adam dan sentuhan orang musyrik kepadanya."

Batu ini selalu dihormati dan diagungkan dan dimuliakan, baik pada masa jahiliah maupun pada masa Islam. orang orang mencari berkah padanya dan menciumnya hingga tibbalah pada suatu ketika Mekah dimasuki kaum Qaramithah pada tahun 317 H secara paksa. mereka merampas Mekah dan membantai para jamaah haji, menuasai Baitullah dan mencabut Hajar Aswad dan membawanya ke negeri mereka di kota Ahsa, yang saat ini terletak di wilayah negara Bahrain.

Bajkam at-Turki, seorang penguasa Baghdad telah mendermakan ribuan dinar kepada mereka pada masa pemerintahan ar-Radhi Billahi agar mereka bersedia mengembalikannya. Akan tetapi mereka tidak pernah mengembalikannya. lalu, Abu Ali Umar bin Yahya Al Alawai, seorang khalifah tampil sebagai penengah pada tahun 339H. Akhirnya, mereka pun bersedia untuk mengembalikannya. Mereka membawanya ke Kufah, lalu menggantungkannya di tiang ke tujuh Masjid Jami. Setelah itu, mereka mengembalikannya ke tempat semula. mereka beralasan, "Kami telah mengambil berdasarkan perintah dan mengembalikannya berdasarkan perinta pula". Lama masa hilangnya Hajar Aswad dari Ka'bah adalah selama 22 tahun.

Kenapa kaum Muslimin Mencium Hajar Aswad

Ada sebuah ungkapan populer dari Umar bin Khotob tentang Hajar Aswad yang berbunyi,
"Kalaulah aku tidak pernah menyaksikan Rasulullah menciummu, tentu aku tidak pernah menciummu."

Ungkapan ini berasal dari hadist yang diriwayatkan oleh Jamaah. Al-Hafizh ibnu hajar meriwayatkan dari Ath-Thabari bahwa Umar mengatakan demikian karena dulu orang orang belum lama meninggalkan penyembahan berhala. Umar khawatir orang-orang bodoh akan menyangka bahwa istilam pada Hajar Aswad merupakan bentuk pengagungan terhadap batu, sebagaimana dulu orang-orang melakukannya pada masa jahiliah.

Umar mengeluarkan ungkapan ini agar orang orang tahu, bahwa melakukan Istilam pada Hajar Aswad bertujuan untuk mengikuti sunah Rasulullah, bukan karena batu itu dapat mendatangkan mudharat atau memberikan manfaat, seperti keyakinan masyarakat Jahiliah pada berhala berhala.

Al-Hafizh mengatakan bahwa ungkapan Umar ini memberikan penjelasan bahwa Istilah hajar Aswad merupakan syariat agama. Sekaligus sebagai niat baik mengikuti apa yang belum dipahami kasudnya. Ini merupakan kaidah penting dalam meneladani perbuatan Rasulullah, sekalipun tidak diketahui hikmah yang terdapat padanya. Ungkapan ini pula sebagai bantahan terhadap umat Jahiliah bahwa pada hajar Aswad terhada khasiat. Ungkapan ini sebagai penjelas As-Sunnah melalui perkataan dan perbuatan, yaitu seorang pemimpin yang mengkhawatirkan perbuatannya akan merusak keyakinan umatnya, hendaklah ia segera menenangkan dan menjelaskan perbuatannya tersebut.

Di sini tampak jelas, bahwa mencium Hajar Aswad adalah bukan untuk mengangungkannya, tetapi karena kecintaan terhadapnya. Hal ini seperti seseorang yang mencium anak dan istrinya. Seandainya mencium merupakan tanda pengagungan, tentu semua orang akan menyembah istrinya. Padahal, hal itu tidak masuk akal. maka, dapat dipastikan mencium bukan berarti sebuah bentuk ibadah dan pengagungan, ia adalah bentuk kecintaan (DR. Khalid Saad an-Najjar, al Hajar al-Aswad)

Thowaf dimulai dari Hajar Aswad

Thowaf adalah salah satu rukun haji menurut seluruh madzhab (yaitu thowaf Ifadhah). Begitu pula dalam umroh. Permulaan thowaf harus dimulai dilakukan dari hajar Aswad. Jabir bin Abdullah meriwayatkan, "Kami berangkat bersama Rasulullah untuk melaksanakan Haji Wada". Ketika kami tiba di Baitullah, beliau melakukan Istilam padanya, lalu berlari-lari kecil tiga putaran dan berjalan kaki pada empat putaran".

Asy-Syaukani berkata, "Ada dalil yang menganjurkan untuk memulai thowaf dari hajar Aswad sesudah melakukan istilam pada Ka'bah. Dalam al-bahr, Asy-Sayafii dan Imam Yahya mengatakan bahwa permulaan thowaf dari hajar Aswad hukumnya fardhu. Sementara Ibnu Rusyd, pengarang Bidayatul Mujtahid, berkata, "Jumhur Ulama sepakat bahwa sifat setiap thowaf yang wajib maupun bukan wajib harus dimulai dari Hajar Aswad." Artinya, jika seseorang memulai dari tempat lain, maka apa yang dilakukannya tidak termasuk dalam hitungan Thowaf hingga dia sampai ke Hajar Aswad. Apabila telah sampai padanya, maka itulah awal Thowafnya.

Powered by Blogger.