Haji Back Packer

Haji dengan cara Backpacker atau haji Ngoboy(baca: ungkapan mukimin Makkah) merupakan salah satu pilihan bagi orang yang ingin melaksanakan haji tapi kesulitan mendapatkan Tasreeh atau izin haji dari pemerintah kerajaan Arab Saudi. Dalam satu dekade terakhir ini pemerintah Arab Saudi telah memberlakukan Tasreeh atau izin resmi bagi warganya ataupun warga asing yang bermukim di Saudi Arabiya.

Sulitnya izin dan harganya yang cukup mahal menyebabkan sebagian orang (khsusunya mukimim)lebih memilih ngoboy atau backpacker. Bagi penduduk Makkah ataupun mukimin dari Indonesia tidaklah sulit untuk melaksanakan ibadah haji karna tidak memerlukan Tasreeh. Tapi dalam dua tahun terakhir ini yang berhaji tanpa tasreeh mulai diperketat sekalipun dia bermukim di kota  Makkah. Tetapi aturan-aturan seperti itu tidaklah menyurutkan niat mereka  untuk melaksanakan ibadah haji tiap tahun. Dan bagi yang melanggar aturan tersebut akan di penjarakan sekaligus didenda jika dia seorang warga negara Arab saudi dan akan dideportasi jika dia seorang warga negara asing. Pada kenyataannya aturan seperti itu tidak tega di terapkan ketika pihak yang berwenang melihat jamaah haji sudah menggunakan pakaian ihrom. Walaupun aturan-aturan itu telah dikampanyekan secara masiv di berbagai media masa.

"NO HAJJ WITHOUT HAJJ PERMIT" inilah kalimat yang terpampang di media masa ataupun sepanduk-sepanduk di jalanan yang menuju Kota Makkah.  Bahkan sebagian ulama Arab Saudi telah mengeluarkan fatwa,"Pergi berhaji tanpa Tasreeh hukumnya adalah haram."

Haji Back Packer

Menurut data kementerian haji Arab Saudi ada sekitar 3 juta jamaah haji tanpa tasreeh setiap musim haji. Mulai musim haji tahun 2013 untuk mengurangi masuk jamaah haji non tasreeh, pemerintah Arab Saudi di bawah kementerian Haji(baca Wizaratul Hajj) telah memberlakukan aturan yang lebih ketat lagi dengan menerapkan sistim  sidik jari (Biometrik) bagi jamaah yang melanggar aturan(baca bidunn tasreeh). Untuk musim haji tahun 2013, jamaah haji non tasreeh kelihatan berkurang sedikit ini dilihat dari kemacetan pada jalur yang menuju padang Arofah maupun Mina dan ketika saat tawaf Ifadah. Biasanya bukit-bukit yang ada di sekitar Masjidil Haram di penuhi oleh jamaah haji bacpaker/koboy karena mereka tidak perlu menyewa hotel yang sewanya sepuluh kali lipat dari harga normal. Begitu pula gunung-gunung yang ada di Musdalifah dan di Mina tenda-tenda darurat para jamaah haji ngoboy semakin berkurang.

Ketika jamaah haji selesai melaksanakan wukuf di padang Arofah kemudian berangkat menuju Musdalifah, ada 12 jalur yang bisa  di lalui untuk sampai ke Musdalifah yang jarak 6 km dari Padang Arofah akan tetapi pada musim haji tahun 2013 perjalanan kendaraan yang mengangkut jamaah haji yang menggunakan tasreeh berjalan lancar. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di 12 jalur tersebut hampir mengalami macet total.

Dari pengalaman penulis pada  musim haji tahun 2011 memandu jamaah haji dari sebuah travel haji plus, setelah selesai wukuf kami berangkat jam 10 malam dengan kendaraan  dari Arofah menuju Musdalifah, jarak hanya 6 km dari arofah tersebut kami tempuh selama 6 jam. Barulah sekitar jam 4 pagi kami sampai di Musdalifah dan kami hanya bisa mabit di atas kendaraan dalam kondisi terjebak kemacetan dan hanya menyempatkan diri turun  sebentar untuk memungut kerikil yang akan di pergunakan untuk melontar jumrah dan kemudian melaksanakan sholat subuh. Untuk musim haji tahun 2012 penulis tidak lagi melewati jalur tersebut kami arahkan sopir bis untuk mengambil jalan alternatif memutar melewati kota Soraya kira-kira 25 km dari padang Arofah bisa kami tempuh hanya dalam waktu 1 jam saja kemudian masuk ke areal parkir Musdalifah dan dapat melaksanakan mabit lebih awal.

Setelah di berlakukannya aturan sidik jari pada musim haji tahun 2013 untuk jamaah haji non tasreeh di 12 jalur ini tidak mengalami kemacetan yang berarti, waktu tempuh kami dengan kendaraan 30 menit saja untuk sampai ke Musdalifah.

Aturan tetap ditaati tetapi masih ada jutaan orang yang tidak mau tunduk dengan aturan, mereka menyiasati aturan tersebut dengan berbagai cara  supaya ketika masuk kota Makkah tidak  di tangkap di setiap pos pemeriksaan. Semangat yang membara untuk melaksanakan ibadah haji sehingga jutaan orang bermodalkan nekat tidak menghiraukan aturan tersebut untuk  pergi berhaji. Untuk memasuki kota Makkah di saat musim haji, paling sedikit ada 5 pos pemeriksaan super ketat  dari berbagai jalur miqot yang harus di lewati  bagi mereka yang berhaji tanpa tasreeh. Pos pemeriksaan yang terbanyak jalur dari arah Riyad dan jeddah.

Ada beberapa pengalaman kawan-kawan yang bermukin di Jeddah, Madinah, Thaif dan Riyad, ketika  masuk kota Makkah dua hari menjelang hari Arofah, mereka yang bermukim di Jeddah menaiki kendaraan (baca GMC kendaraan yang populer di Saudi) kendaraan yang memang khsusus menyebrang untuk bisa memasuki kota Makkah, mereka di kenakan tarif per orang 400-600 real padahal pada hari biasanya tarifnya 10 real saja. Mereka berangkat pada pada malam hari dengan 10 kendaraan beriringan dan satu kendaraan yang khusus memantau/memata-matai pos pemeriksaan, jika didapati ada pos pemeriksaan mereka mengambil jalan tikus melewati padang pasir tanpa menyalakan lampu kendaraan. Dan bila sampai di pos pemeriksaan terakhir mereka semua turun dari kendaraan dan berjalan kaki mendaki bukit yang tidak jauh dari pos tersebut. Setelah melewati pos dengan susah payah, mereka menaiki kendaran kembali yang sebelumnya bersepakat dengan sopir untuk naik di tempat yang telah mereka tentukan. Lewat pos terakhir berarti sudah aman tidak ada yang di hawatirkan  bila sudah berada di dalam kota Makkah. Begitu juga dengan pengalaman kawan-kawan dari Madinah hampir sama dengan pengalaman kawn-kawan dari kota Jeddah. Dari Madinah tarif  mereka lebih mahal bisa mencapai 1000 real.

Beda  dengan apa yang di alami kawan-kawan yang berangkat siang hari, mereka di bawa oleh sopir-sopir Badwi(baca orang  Arab gunung) melewati padang pasir dan melewati perkampungan-perkampungan suku Badwi dan ada tempat- tempat tertentu mereka saling tunggu hingga jumlah mereka mencapai ribuan setelah itu merek menyebrang bersama melewati pos terakhir dengan berjalan kaki tanpa ada pertanyaan sedikitpun dari para penjaga pos tersebut ("bingung kaliek ya penjaga posnya mau tangkap yang mana.")

Dan cara kedua untuk bisa memasuki kota Makkah dengan aman biasanya satu bulan sebelum hari Arofah para mukimin yang berada di luar kota Makkah sudah memasuki kota Makkah tanpa menggunakan pakaian ihrom.

Bagaimana kalau yang ingin berhaji dari negara sendiri tanpa mengikitu jalur yang sudah ditetapkan oleh pemerintah masing-masing negara,?
Ada beberapa trik yang dilakukan oleh penyelenggara haji backpaker, mereka memanfaatkan celah yang sulit di pantau oleh kerajaan Arab Saudi. Biasanya penyelenggara haji backpaker bekerja sama dengan mu'asasah yang ada di Makkah dengan memamfaatkan visa musiman untuk bekerja sebagai juru masak di setiap maktab selama musim haji. Dan ada pula di antaranya memanfaatkan visa cleaning servis di Masjidil Haram dengan visa per enam bulan dengan membayar 25 -30 juta, mereka bekerja sama dengan PJTKI tertentu di Jakarta.

Penyelenggara haji backpaker sebelum hari Arofah, mereka menyewa rumah warga setempat yang berada di atas gunung yang sulit di pantau oleh petugas haji kerajaan Arab Saudi. Dan ada pula yang menyewa hotel-hotel dengan cara berbaur dengan jamaah haji plus. Nasib ya nasib ada juga yang tertangkap sebelum sempat melaksanakan wukuf lalu di deportasi ke tanah air.

Haji dengan cara backpaker banyak suka dukanya dan mengasikkan. Betul sekali cerita jamaah haji reguler ketika mereka sudah sampai di tanah air, mereka bercerita,"haji yang tidak resmi di usir-usir oleh askar." Ya, memang betul ketika orang melaksanakan dengan cara ngoboy tersebut ketika di Mina khusunya mereka akan diusir, dilarang tidur atau berteduh di bawah fly ofer ataupun didalam terowongan. "Harrik ya hajj harrikya hajj,"(baca pergi ya haji) teriakan inilah yang selalu di lontarkan oleh para askar yang bertugas di Arofah dan Mina. Apakah para backpaker menghiraukannya? Tentunya ya, akan tetapi tak berlangsung lama setengah jam kemudian mereka kembali juga ketempat semula. Askar jenuh juga berkata harrik-harrik dan mereka membiarkan para backpaker untuk melaksanakan ibadah dengan tenang.

Bagi yang ingin melaksankan Haji dengan cara backpaker yang di tawarkan oleh sebagian travel haji, sebaiknya berpikir dengan lebih matang, kedepankan cara berpikir bijaksana dari pada bermodalkan semangat. Untung Nasib di tangan Allah pada kenyataannya di antara sekian juta haji backpaker hanya  ratusan orang saja yang dideportasi. Asalkan penyelengaranya sudah berpengalaman mereka tahu di mana titik-titik aman untuk menempatkan jamaah haji sebelum pelaksanaan wukuf di Padang Arofah.

Tips Haji Backpaker

  1. Bagi yang berangkat dari tanah air pastikan penyelenggara haji backpaker tersebut sudah berpenglaman atau pastikan anda punya saudara yang bermukim di Makkah
  2. Sebelum berangkat pelajarilah bahasa harian penduduk Makkah
  3. Bila sudah berhasil masuk kota Makkah jangan terlalu sering ke datang ke Masjidil Haram sebelum hari Arofah atau kalau mau ke Masjidil Haram gunakanlah selalu pakaian ihrom walaupun anda dalam keadaan tidak berihrom atau gunakan baju batik yang serupa dengan jamaah haji reguler.
  4. Persiapkan tenda/kemah yang bisa menampung 2-3 orang
  5. Ketika berangkat ke Arofah jangan menggunakan taksi yang sopirnya bukan berwajah arab Badwi atau lebih baik anda berjalan kaki bersama jutaan jamah haji yang lain.
  6. Sesampai di Arofah pilihlah tempat wukuf yang dekat dengan jabal rahmah atau di dalam masjid Namira.
  7. Saat mabit di Musdalifah pilih tempat yang dekat dengan tempat mengambil air wuduk atau toilet.
  8. Ketika berada di Mina ambillah posisi di dalam masjid Al-Khaif dan pastikan tempat yang sudah anda kafling dalam masjid tersebut selalu dijaga bergiliran dengan kelompok anda atau bila anda tidak sempat di masjid tersebut ambillah tempat  yang dekat dengan  jamrat.
  9. Bila ada askar yang mengusir anda,"harrik ya hajj harrik ya hajj," maka bergeserlah dari tempat tersebut.
  10. Ketika di Mina jangan sekali-kali memasuki tenda jamaah haji resmi karena setiap tenda memiliki security.
  11.  Jangan berada di atas fly ofer ataupun di bawahnya ini tempat yang selalu di jaga ketat oleh askar

Semoga tips ini bermanfaat bagi yang nekat behaji dengan cara backpacker. Info info lain tentang haji backpacker bisa kirim ke alamat email penulis
Powered by Blogger.