Masjid Namira

Kaum muslimin yang pernah melaksanakan ibadah haji tentu tahu masjid Namira, akan tetapi juga ada sebagian jemaah haji yang tidak tahu dimana lokasi masjid Namira. Khususnya Jamaah haji dari Asia  Tenggara yang lokasi tempat wukufnya jauh dari masjid ini. Masjid yang luasnya 124.000 meter persegi hanya di gunakan pada hari arofah saja yaitu pada tanggal 9 zulhijah saat puncak pelaksanaan ibadah  haji(wukuf).

Pada malam tanggal 9 zulhijah masjid yang mampu menampung 300.000 jamaah tersebut halaman masjid maupun area sekitar masjid  di penuhi oleh para hujjaj yang rela mengantri hingga saat waktu azan subuh masjid ini baru di buka, mereka adalah kebanyakan jamaah haji yang tidak mengambil hari tarwiyah (baca tgl 8 zulhijah bermalam di Mina), mereka adalah kebanyakan dari jamaah haji yang non tasreeh/tanpa izin resmi (baca orang mukimin menyebutnya haji ngoboy/back packer).

Bagian dari mimbar sampai kira-kira 50 meter kebelakang bukanlah termasuk dalam kawasan padang Arofah dan sebagian besar dari bangunan masjid yang sekarang berada dalam kawasan padang Arofah. Didalam masjid di sediakan tanda batas-batas wukuf dalam berbagai versi bahasa, bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Cina, Urdu, Turki, dan bahasa arab tentunya. Ketika akan mejelang wukuf yaitu saat matahari agak condong ke barat maka petugas haji maupun dari kepolisian Arab Saudi pasti akan mengingatkan dan akan menyeru kepada para jamaah haji untuk mengosongkan area sekitar mimbar sesuai dengan batasan padang Arofah.

Dengan enam menara yang tingginya seratus meter masjid ini di lengkapi pendingin udara berkapsitas besar dan di lengkapi dengan dengan fasilitas tempat mengambil air wuduk dan toilet yang memadai. Akan tetapi saat hari Arofah fasilitas ini terasa kurang jika di bandingkan dengan jumlah jamaah yang sangat ramai dan rela antri panjang jika menggunakan fasilitas terebut.

Masjid Namirah

Jika jamaah haji yang berkeinginan wukuf dalam masjid tersebut, maka sebaiknya datang pada malam hari itupun dengan rela untuk berdesak desakan saat memasuki masjid yang mulai di buka saat menjelang waktu subuh.

Harus di pastikan tempat yang dipakai wukuf merupakan bagian dari padang Arofah, jika wukuf di luar padang Arofah haji tidak sah. Sedangkan wukuf merupakan rukun haji dan tidak bisa di gantikan dengan dengan dam ataupun dengan sejenisnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam sebuah hadis yang di sahihkan oleh Al-Bani dan Syuaib Al-Arnauth,"dari Jubair bin muth'im ra,dari Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, Beliau bersabda,"Seluruh Arofah adalah tempat wukuf, dan jauhilah tengah lembah 'Uranah. (HR.Ahmad no.16.797).

Lembah 'Uranah bukan merupakan bagian dari padang Arofah dan hendaknya jemaah haji tidak keluar dari kawasan padang Arofah kecuali setelah terbenam matahari, seperti yang telah di jelaskan dalam hadis yang menjelaskan wukuf Nabi. "Beliau terus wukuf , sampai matahari tenggelam, warna kuning sedikit pergi, dan bola matahari tidak kelihatan lagi.(HR.Muslim no.1284).

Sekarang ini batas-batas padang Arofah telah di tandai dengan papan tinggi besar warna kuning yang bertuliskan ."Bidayah an Nihayah dan dalam tulisan bahasa inggris juga," Arofah start here.Tulisan ini nampak dengan jelas dari kejauhan.

Pada musim haji tahun 2010, penulis saat itu bersama rombongan berangkat pada pagi hari setelah melakukan tarwiyah di Mina, dengan berjalan kaki sejauh 18 km menuju padang arofah, sampai di lembah uranah sebelum memasuki kawasan masjid Namira, kami tertahan karena tidak bisa masuk dikarenakan lautan manusia yang sudah memenuhi area kawasan masjid mulai dari sebelum wadi uranah sampai pintu jalan utama yang menuju masjid tersebut. Keinginan untuk lebih mendekat kami berdesak-desakan selangkah demi selangkah untuk bisa maju ke halaman masjid. Jarak yang hanya lima ratus meter terpaksa kami tempuh lebih dari satu jam dengan menguras tenaga sambil mempertahankan diri agar tidak terjatuh yang kadang-kadang orang saling dorong untuk  bisa sampai di halaman ataupun daerah sekitar mesjid. Ada yang pingsan bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Askari/pihak keamanan tidak ampu mengendalikan suasana yang sangat ramai terebut. Sebagian jamaah haji berebut untuk datang ke masjid hanya semata mendengarkan khutbah haji. Akhirnya sampailah kami dalam kawasan padang Arofah dan kemudian melaksanakan sholat di antara hempitan parkiran kendaraan kontainer yang membagikan makanan secara gratis untuk jamaah haji.

Setelah sholat duhur dan Asr secara jamak qashar barulah kami mencari tempat yang longgar, Walaupun dengan rombongan tidak persiapan makanan kami tidak khawatir karena banyak yang berjualan makanan, nasi, bakso, mie rebus, mereka yang berjualan adalah orang Indonesia yang bermukim di Makkah. Cukup murah hanya 5 real untuk satu bungkus nasi dengan lauk daging.

Powered by Blogger.