Masjid Qiblatain

Ada sekitar 30 tempat peninggalan bersajarah di kota Madinah, dan peninggalan yang paling banyak adalah mesjid yang ada kaitannya dengan perjalanan Rasulullah dalam berdakwah. Diantara masjid-masjid tersebut selain dari masjid Nabawi, terdapat satu masjid yang  memiliki ciri khas dan nilai sejarah yang berbeda dari masjid lainnya yang ada di kota Madinah.

Masjid Qiblatain

Masjid yang terletak di jalan Khalid Al-Walid 3 km ke arah barat  laut dari masjid Nabawi selalu ramai di kunjungi para peziarah. Bangunan masjid yang mampu menampung sekitar 2000 jamaah ini di beri nama dengan nama masjid Qiblatain. Qibltain dalam bahasa Indonesia artinya dua qiblat. Masjid dua qiblat atau masjid Qiblatain ini memliki dua menara dan dua Qubah. Qubah-qubah tersebut menandakan arah qiblat dari masjid ini. Qiblat yang satunya menghadap ke arah utara yaitu ke Masjidil Aqsho di Palistina dan satunya lagi mengarah ke selatan yaitu ke Masjidil Haram di Makkah. 

Masjid yang di cat dengan berwarna putih tersebut  mempunyai interior yang berbeda dari masjid yang lainnya. Lantai masjid yang berada di bawah qubah yang menghadap ke Masjidil Aqsho di buat lebih rendah turun satu tangga. Masjid ini di lengkapi halaman parkir kendaraan yang cukup luas yang mampu menanmpung ratusan kendaraan besar dan kecil.

Masjid qiblatain pada zaman Rasulullah bernama masjid Bani Salamah yang terletak di perkampungan Bani Salamah. Di tempat inilah dulu Rasululllah menerima wahyu untuk merubah arah qiblat, sholat yang semula menghadap ke Masjidil Aqsho di Palestina dan Allah perintahkan untuk mengubah arah qiblat menghadap ke Masjidil Haram di Makkah. Selama 16 bulan kaum muslimin berkiblat sholat ke arah Masjidil Aqsho bersama dengan kaum nasrani dan yahudi. Orang-orang yahudi ketika itu sering mencemooh kaum muslimin karena bersamaan qiblat dengan mereka. melihat keadaan yang demikian Beliau pun menjadi risau.

Pada hari senin bulan rajab di tahun ke 2 Hijriyah Rasulullah dan bersama beberapa orang Sahabat datang ke perkampungan Bani salamah umtuk bersilaturahmi. Kemudian beliau melaksanakan sholat di tempat tersebut. Pada saat melaksanakan sholat dirakaat pertama dan kedua sholat beliau menghadadap Masjidil Aqsho, kemudian Beliau menerima wahyu dan di rakaat ketiga dan ke empat Beliau berputar 180 derajat berpindah arah menghadap Masjidil Haram di Makkah.

 قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

"Sungguh Kami (sering ) melihat mukamu menengadah ke langit, maka Kami akan memalingkan mukamu ke arah qiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sungguh orang-orang (yahudi dan nasrani) yang di beri Al-kitab(Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling kearah Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan."(surat Al-baqarah ayat 144)

Dengan turunnya ayat tersebut secara otomatis kaum muslimin tidak lagi berkiblat kearah Masjidil Aqsho di Baitul Maqdis. Setelah perpindahan qiblat kaum muslimin tersebut orang-orang yahudi semakin jengkel terhadap kaum muslimin ketika itu.

Catatan penulis :
Jamaah haji  ataupun jamaah umroh yang datang berziaarah ke Masjid Qiblatain kebanyakan dari negara Pakistan, India, Banglades, Turki, dan Iran. Khusus jamaah haji ataupun jamaah umroh dari Indonesia dan Malaysia biasanya ketika melewati masjid tersebut, pemandu jarang membawa jamaah turun untuk berziarah, cukup hanya melihat-lihat saja dari atas kendaraan.

Powered by Blogger.