Masjid Terapung

Tak lengkap rasanya kalau tidak pergi berkunjung ke Masjid Terapung di tepei pantai laut merah setelah selesai dari pada melaksanakan ibadah haji ataupun umroh ketika hendak pulang ke tanah air inilah ungkapan yang sering tergambarkan di benak jamaah haji ataupun jamaah umroh khusunya jamaah dari Indonesia. Jika debuah travel tidak membawa jamaahnya singgah di masjid ini, dipastikan jamaah dari travel tersebut akan komplin ("penasaran kaliek jamaahnya mau lihat air laut berwarna merah)

Apa sih keistimewaan dari Masjid Terapung tersebut sehingga kalau jamaah umroh khusunya jika tidak di bawa ke tempat tersebut akan komplin?
Masjid Terapung

Tidak ada yang istemewa dari Masjid terapung tersebut ataupun dari nilai sejarahnya seperti masjid-masjid yang ada di Makkah dan Madinah. Masjid yang dibangun di tepian  pantai laut merah ini, dulunya adalah merupakan masjid  kecil yang di bangun di atas daratan. Tanah masjid merupakan tanah wakaf dari seorang janda dari kota Jeddah. Seiring dengan berkembang pesatnya ekonomi negara Arab saudi, pemerintah negara tersebut banyak membangun hadigah-hadigah(baca taman-taman dalam kota), monumen-monumen, dan termasuk mereklamasi kawasan pantai untuk di jadikan obyek wisata. Dan setiap kawasan wisata pantai,Masjid merupakan perioritas utama untuk di perluas dan di percantik, karna masjid juga merupakan kebutuhan yang penting bagi  orang yang menikmati keindahan pantai("walupun di pantai jika waktu sholat tiba pengunjung tidak ketinggalan sholat berjamaah, dan banyak dilihat shaf-shaf sholat berjamaah di tepi pantai tersebut jika jauh dari masjid"). Sepanjang kira-kira 20 km pantai laut merah memang tertata cantik, di lengkapi dengan hotel-hotel bintang lima, taman-taman permainan dan jembatan-jembatan yang mejulur ke laut sebagai tempat pemancingan. Dan Masjid Terapung tak luput dari pembangunan karena letaknya yang berada di kawasan wisata pantai laut merah.

Masjid yang dibangun menjorok ke laut tersebut berdiri kokoh dengan berpondasikan tiang-tiang pancang dari beton. Jika air laut sedang pasang seakan-akan masjid tersebut menjadi terapung. Masjid dengan satu menara ini mampu menampung 1000 jamaah. Interior masjid di hiasi dengan kaligrafi bertuliskan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan hadis-hadis Nabi. Didominasi dengan warna hijau dan karpet empuk menambah suasana sejuk bila berada di dalam masjid. Bagian halaman masjid lantainya di lapisi dengan batu geranit dan dilengkkapi dengan payung-payung yang terbuat dari kain berserat kawat baja. Fasiltas tempat mengambil air wuduk dan toilet yang terpisah laki-laki dan perempuan cukup memadai. Di dalam masjid juga dipasang papan tanda berupa larangan membuat gruop sholat berjamaah dobel, tulisan disertai gambar yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Arab tersebut di letakkan di sudut-sudut masjid. Karena memang di masjid ini sering terjadi jamaah yang datang silih berganti, ketika sholat, mereka membuat jamaah sholat masing-masing padahal jamaah yang pertama belum selesai melaksanakan sholat berjamaah, sehingga petugas masjid pun selalu mengingatkan kepada jamaah yang datang ke masjid tersebut.

Nama masjid Terapung sebenarnya adalah hasil daripada kereatifitas jamaah Indonesia yang telah memberikan masjid ini nama. Masjid Ar-Rahman nama yang terpanpang di depan pitu masjid merupakan nama yang sebenarnya dari masjid tersebut. Kalau orang arab sendiri atau sopir taxi jika di sebutkan masjid terapung mereka tidak akan mengerti  kecuali  disebutkan nama masjid dan tempatnya atau paling tidak kita sebutkan masjid indal bahar(baca masjid tepi pantai). Orang Indonesia memang sangat keratif dalam memberikan nama tempat-tempat yang di kunjungi. Pasar seng(di Makkah), sepeda Nabi Adam, kelereng Nabi Adam, periok Nabi Adam(semuanya ada di kota Jeddah), nama-nama tersebut semuanya merupakan pemberian nama dari orang Indonesia ketika mereka melewati tempat-tempat tersebut.

Pada malam jum'at dan malam sabtu kawasan wisata pantai laut merah jalanannya berubah macet total, penduduk Jeddah ataupun Makkah menjadikan pantai laut merah menjadi tujuan wisata utama mereka. Pantai yang berbatu runcing di sepanjang sisi masjid Terapung ini dilengkapi dengan Gazebo-gazebo tempat pengunjung duduk menikmati deburan ombak laut merah.("beda ya di Indonesia Malam jum'at ramai baca yasinan dan tahlilan").

"Bakso-bakso, "satte-satte youk satte bu," jagung bakar," kurma muda-kurma muda obatnya bagi yang belum punya anak, mari bu ini kurma mudanya., inilah suara khas para pedagang yang menawarkan dagangannya kepada para jamaah haji ataupun jamaah umroh yang datang berkunjung ke Masjid tersebut disaat istrihaat sementara untuk melanjutkan perjalanan menuju bandara untuk kepulangan ke tanah air. Dengan merogoh kocek sisa real, seikat kurma muda di jual dengan harga 15 real saja.  Pedagang yang berjualan disini adalah orang-orang Indonesia yang bermukim di kota Jeddah
Powered by Blogger.