Rukun-Rukun Ka'bah

Rukun yang dimaksudkan disini adalah rukun yang arti harfiahnya “Sudut atau Pojok”. Dalam pengertian keempat sudut ka’bah ini diberi nama Rukun Aswad, Rukun Iraqi, Rukun Yamani, dan Rukun Syami
Pada masa Nabi Ibrahim, sisi diantara rukun Iraqi dengan rukun Syami berbentuk seperti busur, yaitu busur Hijir yang oleh sebagian orang disebut dengan hijir Ismail. Pada masa Abdullah bin az-Zubair, rukun-rukun itu dijadikan persegi empat dan keberadaan mereka terus dipertahankan bersamaan dengan keberadaan Hijir.

Rukun Yamani merupakan sudut ka’bah yang menghadap kea rah barat daya. Di dalam Mu’jam Al-Buldan menyebutkan dari Qutaibah bahwa seorang dari Yaman, bernama Ubay bin Salim telah membangunnya . Sebagian warga Yaman menyenandung nasyid yang berbunyi “Kami miliki sudut di Baitul Haram sebagai warisan yaitu sisa peninggalan Ubay bin Salim. Dahulu nabi melakukan istilah padanya sewaktu thawaf, lalu meyapunya dengan tangan tanpa mennciumannya dan tidak pula mencium tangannya setelah beristilam.

Rukun Iraqi merupakan dinamakan menghadap ke arah Iraq. Rukun ini dinamakan rukun Syimali karena menghadap utara, diantara rukun Iraqi dan rukun aswad terdapat pintu ka’bah. Ada juga Rukun Syami, dinamakan demikian karena menghadap kea rah Syam, rukun ini di sebut pula dengak rukun maghribi antara rukun syami dan rukun Iraqi terdapat talang ka’bah berhadapan dengan Hijir. Talang yaitu air hujan yang turun diatas atap ka’abah, didalam akhbar mekkah melalui sebuah insad yang shahih al-azraqi meriwyatkan dari Ibnu Abbas ,dia berkata “Shalatlah kalian di tempat shalat orang-orang pilihan dan minumlah dari minuman orang-orang yang taat.

Rukun-Rukun Kabah

Selain rukun-rukun kabah kita juga harus tau pengertian dan sejarah nya, ka’bah merupakan kiblat, yaitu arah kaum muslimin hendak menunaikan shalat mereka, perlu dicatat bahwa kaum muslimin menghadap ka’bah dalam shalat, mereka tidak menyembah ka’bah , kaum muslimin hanya menyembah dan bersujud kepada Allah SWT, ketika melakukan thawaf di ka’bah atau mencium hajar aswad, itu semua di lakukan sebagai bentuk taat kepada Allah SWT, Allah lah yang memerintahkan semua untuk menyembah Nya, disebutkan dalam QS.Al-Baqarah ayat 144 :
“Sungguh kami sering melihat mukamu menengadah kelangit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai, palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya…”

Pada masa Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun, pada saat itu beliau belum diangkat menjadi Rasul, bangunan ini direnovasi kembali akibat banjir yang melanda kota Mekkah pada saat itu, sempat terjadi perselisihan antar kepal suku atau kabilah ketika hendak meletakan kembali Hajar Aswad namun berkat hikmah Rasulullah perselisihan ini di selesaikan tanpa kekerasan, tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada juga pihak yang dirugikan.
Powered by Blogger.