Rumah Halima Saadia

Sudah menjadi tradisi bangsa-bangsa arab Makkah menyerahkan anak-anaknya yang baru lahir untuk disusui oleh wanita-wanita yang bukan ibu mereka (ibu susuan). Dan setatus anak yang disusuipun menjadi anak angkat atau dalam Islam dikenal dengan saudara sesusuan. Pada masa arab jahiliyah tradisi mengambil anak yang baru lahir untuk disusui dan untuk mendapatkan upah sudah berlangsung turun temurun.

Arab Badwi (baca arab gunung) sudah menjadi kebiasaan mereka untuk mencari bayi yang baru dilahirkan untuk disusui. Mereka akan datang ke Kota Makkah karena pada saat itu Makkah sudah menjadi Ummul Quro'(baca induk daripada desa-desa). Para wanita Badwi tersebut biasanya akan mencari bayi-bayi yang baru di lahirkan dari orang-orang kaya atau bangsawan Makkah.

Ketika Nabi Muhammad lahir sekelompok wanita Badwi datang ke Makkah untuk mencari bayi-bayi yang akan mereka susui. Bayi yang yatim bernama Muhammad adalah bayi yang terakhir belum mendapat ibu susuan ketika itu. Halima binti Zu'aib Assa'diyah atau lebih di kenali dengan Halima Saadiah isteri dari Al-Arit bin Abdul Uzza (Abu Kabsah) dia adalah wanita yang beruntung mendapatkan bayi dari seorang perempuan yang bernama Aminah. Halimah yang lemah lembut dan penyabar tanpa berpikir panjang dan langsung mengambil bayi ini dari pangkuan Aminah dengan perasaan gembira. Para wanita yang lain lebih memilih untuk mendapatkan bayi dari keluarga kaya, tapi Halimah memilih bayi yang dalam keadaan yatim. Abdullah adalah merupakan ayah Nabi, meninggal sebelum Nabi lahir.
Rumah Halima Saadia

Halimah membawa Nabi ke perkampungan Bani Saad yang berada di daerah pegunungan Thaif. Ketika itu bayi yang bernama Muhammad tersebut baru berumur satu minggu. Bayi yang masih merah yang di bawa oleh Halimah ini membawa berkah dalam keluarga mereka. Halimah sendiri langsung merasakan keberkahannya dan iapun menjadi lebih banyak mengeluarkan ASI dan kambing-kambing yang dimiliki keluarga Halimah juga mulai lebih banyak mengeluarkan air susu dari biasanya.

Halima mempunyai seorang putri bernama Shaima dan menjadi saudara sesusuan Nabi. Shaima yang baru berusia lima tahun ketika itu selalu membantu ibunya untuk mengurus Nabi. Dia selalu memeluk Nabi dan memabawanya berjalan-jalan. Shaima menyaksikan perubahan dalam keluarganya dari kemiskinan berubah menjadi makmur berkat saudara sesusuannya itu. Dia sering menyanyikan lagu-lagu tentang Nabi, dan berkata,"Ya Tuhan kami! biarkanlah Muhammad hidup bersama kami sehingga kami bisa melihat dia menjadi seorang remaja dan menjadi seorang pemimpin, mengalahkan musuh-musuhnya dan berilah ia kemuliaan yang abadi,

Hari berganti hari minggu berganti minggu bulan berganti bulan sehingga sampailah usia dua tahun, tibalah waktunya Muhammad dikembalikan ke ibunya dan Shaima yang sudah sangat akrab dengan Muhammad terkejut ketika saudara sesusuannya itu dihantar pulang ke ibu kandungnya.

Aminah memelihara Nabi hanya sebentar saja kemudian datang Halima untuk meminta izin kepada Aminah untuk memelihara Nabi kembali. Karena Halima sangat sayang pada Nabi dan tak sanggup rasanya berpisah dengan Beliau. Setelah itu Nabi di bawa pulang ke perkampungan Bani Saad. Nabi Muhammad di besarkan oleh Halima Saadia sampai usia 5 tahun.

Selama beliau diasuh oleh Halima di perkampungan Bani Saad, Beliau menjadi fasih dalam berbahasa arab, ini dikarenakan Bani Saaad adalah kabilah yang paling fasih berbahasa arab diantara kabilah-kabilah lainnya. Dan Nabi pernah bersabda,"Aku adalah orang yang paling fasih di anatara kalian, dan aku orang suku Quraes yang di besarkan di dusun keluarga Bani Saad bin Bakar."

Beliau dalam pangkuan ibu kandungnya hanya satu tahun saja. Ibunya membawanya ke Madinah untuk diperkenalkan kepada keluarganya dari kabilah Bani Annajar. Dan ibunya meninggal dalam perjalanan pulang ke Makkah dan di makamkan di Abwa.

Ketika Muhammad telah diangkat menjadi seorang Nabi, Halimah kembali ke Makkah dan istri Nabi Siti Khadijah menghadiahkan 40 ekor domba kepada Halima. Kemudian Halima kembali menemui Nabi di Ji'ranah setelah Nabi selesai daripada peperangan Hawazim dan Beliau di sana membagikan-bagikan ghanimah(harta rampasan perang).

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Al-Adabul Mufrad dan Imam Abu Daud dan Baihaqi dalam kitab Addalail, dari jalur Ja,far bin Yahya bin Tsauban ia berkata,"Umarah bin Tsauban memberitakan kepada kami bahwa Abu Tufail mengabarinya,"aku melihat Nabi Saw membagikan daging di Ji'ranah,"Abu Tufail berkata saat itu aku masih kana-kanak yang baru kuat mengangkat tulang unta tiba-tiba datang seorang wanita yang langsung mendekati Nabi shallallahu 'alahi wa sallam. Beliaupun mebentangkan selendangnya lalu mempersilakan wanita itu duduk di atasnya,"aku bertanya siapa wanita itu?' mereka menjawab,"ini ibu yang menyusui beliau."


Sekali lagi Halima datang ke Madinah menemui Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam dan merupakan hari-hari terakhir Halima dan beliau meninggal di Madinah dan di makamkam di pekuburan Baqiq

Rumah yang pernah ditempati oleh  Halimah di bangun  dari susunan batu-batu gunung saat ini masih tetap utuh dan dilestarikan dan perkampungan Bani Saad sekarang ini kelihatan sepi. Sebelum bulan Ramadhan tahun yang lalu beberapa orang kawan penulis datang berkunjung ke perkampungan Bani Saad tersebut, jalan yang terjal dan berkelok-kelok di tempuh untuk sampai ke perkampungan Bani Saad tersebut.
 




Powered by Blogger.