Ali Bin Abi Thalib


Ali Bin Abi Thalib adalah keponakan dan menantu Nabi SAW, Ali merupakan putra Abi Thalib bin Abdul Muthalib. Ali seseorang yang memiliki kelebihan, selain itu ia adalah pemegang kekuasaan. Pribadinya penuh keberanian, perumus kebijakan dengan wawasan yang jauh ke depan. Ia adalah pahlawan yang gagah berani, penasehat yang bijaksana, penasihat hukum dan pemegang teguh tradisi, seorang sahabat sejati, dan seorang lawan yang dermawan. Ia telah bekerja keras sampai akhir hayatnya dan merupakan orang kedua yang berpengaruh setelah Rasulullah SAW.

Rasulullah memberi gelar “Babul Ilmu” kepada Ali karena beliau termasuk orang yang meriwayatkan hadist Zulfikar karena, dan pedangnya yang bermata juga disebut “Asadullah” yang artinya singa Allah Rasulullah SAW memimpin peperangan Ali selalu ada dibarisan depan dan memperoleh kemenangan. “Karramallahu Wajhahu” gelar dari Rasulullah yang artinya wajahnya dimuliakan oleh Allah, karena sejak kecil beliau dikenal kesalehannya dan kebersihan jiwanya, “Imamul masakin” (pemimpin orang-orang miskin), karena beliau selalu belas kasih kepada orang-orang miskin, beliau selalu mendahulukan kepentingan orang-orang fakir, miskin dan yatim. Meskipun ia sendiri sangat membutuhkan. Ali termasuk salah satu seorang dari tiga tokoh yang didalamnya bercermin kepribadian Rasulullah SAW. Mereka itu adalah Abu Bakar Asshiddiq, Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Tholib. Mereka bertiga laksana bintang memancarkan cahayanya.

Ali Bin Abi Thalib

Setelah Utsman wafat, masyarakat beramai-ramai meminta agar Ali Bin ABi Thalib sebagai Khalifah atau pemimpin. Ali memerintah hanya enam tahun. Selama masa pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masalah sedikit pun dalam pemerintahannya yang dapat dikatakan setabil. Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali memecat para gubernur, beliau yakin bahwa pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka dan beliau juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada bangsanya.

Khalifah Ali bin Abi Thalib RA menjalankan system pemerintahaan sebagaimana Khalifah sebelumnya, baik dari segi kepemimpinan ataupun kebijakan. Dalam mengangkat seorang pemimpin memberikan wewenang atas wilayah kekuasaan yang di pimpinya. Akibat terjadinya perselisihan pendapat dalam pasukan Ali, maka timbullah golongan Khawarij dan Syi’ah. Khawarij adalah golongan yang semula pengikut Ali , setelah berhenti perang Siffin mereka tidak puas, dan keluar dari golongan Ali, karena mereka ingin melanjutkan peperangan yang sudah hampir menang, dan mereka tidak setuju dengan perundingan Daumatul Jandal.

Kaum Khawarij tidak lagi mempercayai kebenaran pemimpin-pemimpin Islam, dan mereka berpendapat bahwa pangkal kekacauan Islam pada saat itu adalah karena adanya 3 orang imam, yaitu Ali, Muawwiyah dan Amir. Mereka bersumpah akan melaksanakan pembunuhan pada tanggal 17 Ramadhan 40 Hijriah atau 24 Januari 661 Masehi di waktu subuh. Diantara tiga orang Khawarij tiu. Hanya Ibnu Muljam yang berhasil membunuh Ali ketika beliau sedang sholat Subuh di Masjid Kufah tetapi Ibnu Muljam pun tertangkap dan juga dibunuh. Khalifah Ali wafat dalam usia 58 tahun, kemudian Hasan bin Ali dinobatkan menjadi Khalifah yang berkedudukan di daerah Kufah.





Powered by Blogger.