Kereta Api Hijaz


Kereta Api Hijaz (HIjaz Railway) dicatat sebagai salah satu prestasi Sultan Utsmani . Proyek raksasa yang pengerjaannya memakan waktu delapan tahun itu memberikan pelayanan yang luar biasa efektif bagi para Jemaah haji, terutama dalam menghemat waktu perjalanan serta meminalisir bahaya kesulitan di padang pasir, sejak jalur kereta yang panjangnya mencapai 1.320 km itu diresmikan, perjalanan haji yang sebelumnya memakan waktu berbulan-bulan, akhirnya dapat ditempuh hanya dalam beberapa hari dengan tenang dan aman.

Kereta Api Hijaz

Umat islam di seluruh dunia sangat mengharapkan pembangunan rel kereta api HIjaz ini. Waktu ke waktu pembangunan tersebut dengan suka rela mendermakan harta untuyk pembangunannya. Sumbangan kaum muslimin untuk pembuatan jalur kereta api Hijaz ini mencapai sepertiga dari kesuluruhan biaya pembangunan, semangat keagamaan sunguh-sungguh membuncah didalam hati mereka. Banyak oreang membayangkan bahwa kesadaran kaum muslimin sudah mendekati masa-masanya. Perasaan yang mengalir deras itu tercermin dalam semangat pembangunan itu selesai.

Pembangunan proyek Railway yang dilaksanakan oleh sebuah tim internasional tujuh belas orang Turki, dua belas orang Jerman, lima orang Italia, lima orang Perancis, satu orang Austria, satu orang Belgia, satu orang Yunani, dan ditopang oleh 5.630 tentara Turki itu ternyata menghadapi berbagai kendala sosial dan teknis. Para syaikh dan orang-orang yang merasa akan dirugikan dengan kehadiran “si Unta Besi” itu, merasa tidak senang dengan adanya proyek itu. Karena itu, mereka kerap mengganggu dan menghalangi proses pembangunan proyek itu.

Penolakan yang demikian itu dapat dimengerti. Karena dengan adanya jalur kereta api itu, membuat pendapatan dan penghasilan mereka sirna. Hal itu terbukti selepas proyek itu rampung. Jika sebelumnya, perjalanan antara Damaskus sampai Madinah memerlukan biaya paling sedikit 40 poundsterling, nah dengan dengan naik kereta api itu biaya yang mereka keluarkan menurun tajam menjadi sekitar empat setengah poundsterling. Apalagi, lama perjalanan pun menjadi sangat pendek. Bila sebelumnya perjalanan antara Damaskus sampai Madinah, dengan naik unta, memerlukan masa sekitar dua bulan, dengan kehadiran kereta api itu masa perjalanan yang diperlukan tinggal menjadi 55 jam.

Di sisi lain, tantangan dan hambatan teknis penyelesaian dan pelaksanaan proyek Railway juga tidak ringan. Misalnya, hambatan geografis di Jordania selatan. Belum lagi masalah cuaca, air minum, air untuk lokomotif, jembatan, dan rel yang tertimbun pasir akibat badai gurun pasir.Kereta api dari Damaskus pertama kali tiba di Madinah Al-Munawwarah pada Jumat, 14 Rajab 1325 H atau 23 Agustus 1908 M.

Setahun kemudian, tepatnya pada Selasa, 4 Sya‘ban 1326 H atau 1 September 1908 M, proyek Railway diresmikan. Semula, belum banyak jamaah umrah maupun haji yang berminat naik kereta api itu. Pada 1330 Hijriah/1912 Masehi, misalnya, selama tahun itu, kereta api hanya mengangkut sekitar 30.000 jamaah. Tetapi, dua tahun kemudian, peminat kereta api itu naik luar biasa. Selama tahun itu, kereta api mengangkut tidak kurang dari 300.000 penumpang. Bagi penumpang non Muslim, kecuali mereka yang mendapatkan izin khusus, hanya diperkenankan naik kereta api itu hingga Ma‘an saja.


Powered by Blogger.