Ketentuan Bertahallul


Tahallul menurut bahasa berarti ‘menjadi boleh’ atau ‘diperbolehkan’. Dengan demikian jika tahallul telah dilaksanakan oleh orang yang sedang ihram Haji atau umrah menjadi terbebas dari larangan ihramnya.Pembebasan tersebut ditandai dengan tahallul yaitu dengan mencukur atau memotong rambut sedikitnya 3 helai rambut, dan bagi laki-laki disunahkah mencukur bersih atau gundul.

Orang yang sedang melaksanakan ibadah haji terkepung oleh musuh, sehingga ia tidak dapat melaksanakan wukuf, thawaf, dan sa’ai. Tetapi memperoleh jalan yang lain dapat dilaluinya untuk wukuf, thawaf, dan sa’i, maka ia wajib melalui jalan tersebut, baik jauh maupuin dekat. Ia tidak bertahallul apabila menurut perkiraannya melalui jalan tersebut dapat mengakibatkan hajinya tertinggal, karena tidak ada jalan lain, maka ia di perbolehkan bertahallul dari ihramnya dengan amalan umrah.
Imam Hanafi berpendapat jika ia terkepung dan tidak dapat berwukuf dan bermalam di Muzdalifah, maka ia bertahallul, sedangkan kalau dari salah satunya saja tidak diperbolehkan bertahallul. Di riwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. “Bahwa tidak bertahallul jika musuh itu bukan orang-orang kafir”.

Ketentuan Bertahllul

Bertahallul itu sudah mencukupi dengan niat menyembelih dan bercukur, Imam Hanafi berpendapat, menyembelih harus di dalam tanah Haram,oleh karena itu hendaklah ia bermufakat dengan seseorang untuk menyembelih di dalam tanah Haram, lalu ia bertahallul pada waktu penyembelihan teresebut.
Apabila bertahallul sedangkan haji yang dikerjakannya adalah haji wajib, Imam Syafi’i mempunyai dua pendapat, yang paling kuat adalah wajib di qadha ketika berhaji, sedangkan pendapat Masyhur dari Hanafi adalah tidak wajib di qadha.

Apabila dikepung, tidak dibenarkan ia masuk Mekkah untuk mengerjakan haji fardhu sesudah ihram, maka ia terlepas dari mengerjakan haji itu. Tidak ada qadha bagi orang yang berhaji sunnah, apabila seseorang tidak dapat memasuki Mekkah karena sakit, jika ia mensyaratkan bertahallul karena sakit, sedangkan hajinya adalah haji sunnah, maka ia boleh bertahallul lantaran sakitnya tersebut.

Apabila seseorang budak berihram tidak seizin tuannya maka ihram nya syah-syah saja, tetapi ia wajib bertahallul, dan budak wanita sama dengan budak laki-laki, kalau bersuami diwajibkan memnita ijin suaminya serta tuannya. Perempuan diperbolehkan berihram untuk haji meskipun tidak mendapatkan ijin dari suaminya. Dan apakah suami boleh menyuruh istrinya bertahallul? Bagi seorang suami boleh menyuruh istrinya bertahallul dari haji fardhu tersebut.


Powered by Blogger.