Melempar Jumroh


Melempar Jumroh adalah salah satu rukun wajib haji, yaitu melempar jumrah aqabah dan melempar tiga jumrah. Jumrah berarti tempat pelemparan, Jumrah didirikan untuk memperingati nabi Ibrahim As, yang ter goda syetan agar tidak melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya Nabi Ismail As.Tiga kali beliau digoda dan tiga tempat pula baliau melemparkan batu kepada syetan sebagaimana yang diperintahkan dan dibimbing langsung oleh malaikat.

Ditempat-tempat beliau melempar inilah yang kemudian dibangun tugu-tugu dengan nama Ula, Wustha, dan Aqabah. Untuk memudahkan jamaah, pemerintah arab Saudi membangun jalan lebar dua lantai, sehingga ketiga jumrah tersebut mudah dicapai. Jumrah Ula (jumrah pertama) yang biasa disebut juga dengan jumrah Sughra (jumrah kecil) adalah jumrah yang terletak didekat masjid Khaif. Jumrah Wustha (jumrah sedang) yang biasa disebut dengan jumrah Al-Tsaniah (jumrah kedua) adalah jumrah yang berjarak sekitar 150 meter dari jumrah Ula. Jumrah Aqabah (jumrah yang besar) yang bisa juga disebut dengan jumrah Al-Tsalitsah (jumrah ketiga) adalah jumrah yang berada di pintu gerbang mina, yang jaraknya dari jumrah Wustha sekitar 190 meter.

Melempar Jumroh

Syarat-Syarat Melontar Jumrah diantaranya sebagai berikut, yang pertama niat, selanjutnya Lemparan itu harus dengan tujuh batu secara sepakat. Lemparan itu harus dengan batu secara satu-satu, dan tidak boleh dua-dua, atau juga sekaligus. Batu yang dilampar itu harus sampai kejumrah yakni mencapai sasarannya, secara sepakat. Sampainya batu harus dilakukan (dengan cara) dilempar. Maka tidak cukup kalau hanya dengan jatuh, Yang dilamparkan itu harus batu.

Maka tidak cukup dengan garam, besi, kuningan, bambu dan tembikar, serta lain-lainnya, menurut semua ulama mazhab selain Abu Hanifah. Ia berpendapat, setiap sesuatu yang sejenis dari tanah dibolehkan, baik tembikar lumpur maupun batu. Batu-batu yang akan dilamparkan itu adalah batu-batu yang belum dipakai untuk melempar. Hal ini dijelaskan oleh Imam Hambali tetapi tidak di syaratkan suci dalam melempar, namun bila suci itu lebih utama.

Melontar jumrah Aqabah dilaksanakan pada hari raya haji,” Melempar jumrah dari atas kendaraan beliau pada hari raya, lalu beliau barsabda: hendaklah kamu turuti cara ibadah sebagaimana yang saya kerjakan ini, karena sesungguhnya saya tidak mengetahui, apakah saya akan dapat mengerjakan haji lagi sesudah (haji) ini”. (HR. Ahmad, Muslim dan Nasai).

Rasululllah SAW memberikan kelonggaran (rukhshah) bagi pengembala unta. Sekiranya ada kesulitan, tentu dapat dibenarkan, bahwa melontar jumrah sesudah tengah malam menjelang hari raya dan lebih afdhal sesudah terbit matahari. Mereka beralasan, bahwa nabi pernah menyuruh Ummu Salamah melontar jumrah aqabah sebelum terbit fajar. Demikian juga Asma’ pernah melakukan pelontaran jumrah Aqabah sebelum terbit fajar. Imam Thabari mengatakan, Imam Syafi’i berpegang kepada hadits Ummu Salamah dan Asma yang membolehkan melontar jumrah aqabah pada malam hari menjelang hari raya, kemudian langsung ke Mekkah untuk melakukan thawafifadhah (rukun haji). Ibnu hazm mengatakan, rukhshal (dispensasi) itu dikhususkan untuk wanita saja, yaitu wanita-wanita yang seadang udzur.
Powered by Blogger.