Meraih Haji Yang Mabrur

Haji yang mabrur merupakan idaman dan cita-cita kaum muslilmin didunia, oleh karenanya ibadah haji merupakan rukun islam yang kelima. Baik kaum laki-laki maupun wanita hukumnya wajib melaksanakan bagi orang yang mampu secara fisik nan finansial. Tidak boleh baginya menunda-nunda pelaksanaan haji atau umrah. Akan tetapi jika seorang muslim terhalangi untuk melaksanakannya karena suatu halangan seperti utang, terikat kerja, baik sebagai pegawai negara atau bukan, atau karena regulasi keberangkatan haji yang diatur oleh negara dan alasan yang lainnya, tidak apa-apa ia menundanya dan ia termasuk orang yang memiliki uzur dalam hal ini.


Dalil Mutafaq alahi mengatakan “ Umrah keumrah adalah penggugur dosa antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali syurga”. Serta “ Tidak ada ada suatu hari yang hamba-hamba Allah dibebaskan dari api neraka yang lebih banyak dari hari arafah, Dia akan mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berkata, “Apa yang mereka inginkan.?” (HR Muslim).

Maka dari semua itu, wajib atas masing-masing kaum muslimin berusaha menjadikan hajinya mabrur, agar ia mendapatkan keutamaan serta pahala yang besar tentunya dengan atas keridhaan Allah SWT. Untuk mencapai ibadah haji yang mabrur ada beberapa hal yang harus dimilki oleh sifat kita khusunya bagi orang yang mau berhaji, yakni Ikhlas, orang yang ikhlas dalam menjalankan ibadah hajinya, tidak perlu menginginkan pujian dari orang lain, gelar “haji”, sesuatu dari keuntungan dunia seperti harta dan yang lainnya. Allah SWT berfirman, “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereak itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan kebaikan.” (QS. Al Isra: 18-19)

Mengikuti sunah Rasulullah SAW, Orang berhaji juga harus berusaha menunaikan ritual hajinya sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Ambillah dariku manasik haji kalian.” (HR Muslim). Maka dari itu hukumnya wajib bagi orang yank akan berhaji untuk mempelajari hukum-hukum ibadah haji, sehinnga dapat melaksanakan ibadah tersebut sesuai ilmu dan tidak terjatuh pada kesalahan dan kekurangan yana akan mengurangi pahala hajinya bahkan merusaknya.

Menjauhi kemaksiatan juga termasuk sifat yang harus dimiliki oleh seseorang yang hendak pergi berhaji, maksud dari menjauhi kemaksiatan yakni mencakup larangan-larangan ihram dan maksiat secara umum, seperti tidak shalat pada waktunya secara berjamaah, ghibah, berdusta, mencukur janggut, memandang wanita ajnabiyyah (bukan istri atau mahram) atau gambarnya, atau seorang wanita tidak menutup auratnya secara sempurna, mendengarkan musik, termasuk juga menjauhi rokok karena merokok merupakan perbuatan maksiat kepada Allah dan menyakiti orang di sekitarnya yang tidak merokok. Semua ini adalah kemaksiatan yang harus dijauhi ketika berhaji. Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan ibadah haji.” (QS. Al Baqarah: 197).

Semua kemaksiatan tersebut termasuk perbauatan fasik yang akan menjadikan ibadah haji seseorang tidak mabrur yakni terus-menerus dalam kemaksiatan. Banyak orang yang berhaji ketika melaksanakan ibadah haji menjauhi segala kemaksiatan, akan tetapi dalam hatinya terdapat niat bahwa ia akan kembali melakukan kemaksiaan setelah ia melaksanakan hajinya.

Seharusnya seorang muslim benar-benar memanfaatkan hajinya untuk bertobat kepada Allah SWT dengan tobat yang nashuha yaitu dengan meninggalkan segala dosa, menyesal dan bertekad untuk tidak kembali kepadanya, agar kemudian dengan izin AllahSWT hajinya menjadi haji yang mabrur dan ia kembali dalam keadaan seperti pada hari pertama ia dilahirkan oleh ibunya. Wallahu a’lam.
Powered by Blogger.