Pembangunan Baitul Haram


Baitul Haram merupakan rumah ibadah yang pertama kali dibangun dibumi, sementara Ibrahim al-Khalil merupakan orang yang membangunya kembali bersama putranya yakni Ismail, mereka berdua meninggikan fondasi Baitullah sesudah terjadinya air bah. Pembanguan ini berawal dari perjalanan Ibrahim beserta isterinya Hajar, ketika Ismail masih menyuusu menuju tempat yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Pembangunan Baitul Haram

Al-mawardi meriwayatkan dari Atha, dari Ibny Abbas, bahwa tatkala Adam diturunkan dari surga ke bumi, Allah SWT berfirman kepadanya, “Wahai Adam, pergi dan dirikanlah sebuah rumah untukku Lalu, berthawaflah padanya, sebutlah nama-Ku di dekatnya, sebagaimana engkau saksikan para malaikat melakukannya di seputar Arsy”.

Pembanguna Baitullah pertama kali oleh Nabi Adam as, beliaupun menginjakan kakinya di muka bumi, setiap tempat yang dilewatinya kelak menjadi wilayah yang berpenghuni. Ketika nabi Adam sampai ke lokasi Baitullah yang suci, malaikat Jibril memukulkan kedua sayapnya dibumi, lalu muncullah fondasi yang tertancap erat dari atas lapisan bumi ke tujuh,para malaikat melemparkan kepadanya batu berat yang tidak akan sanggup diangkat oleh tiga puluh orang laki-laki. Setelah itu nabi Adam as membangun Baitullah dengan batu yang berasal dari lima gunung yakni gunung Hira, Thur Sina,Libanon, Jud, dan Thur Zait, sedangkan batu pertamanya berasal dari gunung Hira.

Sebagian riwayat mengatakan telah diturunkan sebuah kemah dari surga untuk nabi Adam. Kemah tersebut dipasang di lokasi ka’bah agar Adam dapat tinggal didalamnya dan berthawaf disekelilingnya, kemah tesebut tetap ada sampai Adam wafat, setelah itu barulah Allah SWT mengangkatnya. Riwayat ini disampaikan melalui jalur Wahb bin Munabbih.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa telah diturunkan bersamanya Baitullah. Di sanalah Adam dan anak cucunya yang beriman melakukan thawaf. Namun, ketika bumi tenggelam oleh air bah, Allah SWT mengangkat Baitullah ke langit. Baitullah itulah yang disebut dengan Baitul Ma’mur. Riwayat ini berasal dari Qatadah seperti yang ditulis Al-Halimi dalam kitabnya, Minhaj Ad-Din. Al-Halimi menyebutkan bahwa pengertian yang dikatakan Qatadah tentang telah diturunkan Baitullah bersama Adam yakni diturunkan pula bersamanya ukuran rumah yang dibangun, baik panjang, lebar, maupun tingginya. Kemudian diperintahkan kepada Adam, “Bangunlah sesuai dengan ukurannya. Perhatikan posisinya, yaitu sekitar lokasi Ka’bah”.

Riwayat lain membahas tentang kemah, bisa jadi benar-benar diturunkan dan dipasang di lokasi ka’bah, maka tatkala Adam diperintahkan untuk membangunya, beliapun membangun di seputar ka’bah. Pembangunan ini bertujuan untuk menentramkan hati Adam selama masa hidupnya. Setelah Adam wafat bangunan itu pun diangkat, dengan demikian berbagi informasi tentang pembangunan Baitullah ternyata saling melengkapi dan mendukung.


Powered by Blogger.