Peristiwa Sebelum Menjadi Rasul


Peristiwa Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul mempunyai peranan yang sangat penting dalam sejarah peranan agama isam, yakni salah satu peristiwa pembangunan ka’bah oleh kaum Quraisy dan peletakan batu hajar aswad.

Dahulu ka’bah hanya berasal dari tumpukan beberapa batu yang mempunyai tinnggi hampir sama dengan ketinggian orang dewasa, dengan demikian orang-orang kaum Quraisy bermusyawarah untuk memperbaiki bangunan ka’bah tersebut. Pada waktu itu bertepatan dengan terjadinya sebuah kapal yang terdampar milik pedagang bangsa romawi yang hancur hingga berkeping-keping di perairan kota Jeddah.

Peristiwa sebelum Menjadi Rasul

Dari sanalah orang-orang Quraisy memanfaatkan bahan-bahan yang berasal dari kayu untuk membuat atap ka’bah. Beberapa kabilah Quaraisy pun mengumpulkan batu-batu untuk meninggikan dinding ka’bah. Setelah selesai meninggikan dan memasang atap ka’bah, diantara kabilah tesebut terjadi perselissiahan karena muncul perbedaan pendapat untuk meletakan batu hajar aswad di sebelah sudut timur ka’bah. Masing-masing kabilah ingin memutuskan oleh sendirinya hingga hampir saja terjadi perang saudara di antara mereka. Kemudin munculah keputusan untuk menunggu selama empat malam sampai lima malam guna meletakan batu hajar aswad yang paling tepat.

Dengan suatu kesepakatan, diantara kabilah Quraisy mengadakan permusyaawarahan guna mencari jalan keluar dari perselisihan terebut. Sebagian sejarawan Abu Umayah bin Abdullah sebagai orang yang dipercaya dalam kabilah Quraisy mengatakan “ Wahai orang Quraisy, percaayakanlah jalan keluar dari perselisihan ini kepada orang yang pertama kali dari pintu masjid ini untuk membuat keputusan.” Mereka akhirnya setuju atas perkataaan Abu Umayah tersebut.

Ternyata orang yang pertama kali masuk ke dalam masjid tersebut yakni Rasulullah SAW. Tentu saja hal ini bukan hanya kebetulan akan tetapi petunjuk dari Allah SWT kepada Nabi guna memecahkan masalah perselisihan tersebut. Ketika sampai di tengah-tengah kaum Quraisy Rasulullah SAW bertanya “ Apa sebenarnya maslah kalian? Kaum Quraisy menjawab “ wahai Rasulullah, kami berselisih paham mengenaai peletakan Hajar Aswad, dan kami saling iri sehingga kami menyerahkan urusan ini kepada orang yang pertama kali masuk kedalam masjid ini yakni Rasulullah SAW yang dijuluki al-Amin”.

Rasulullah SAW kemudian mengambil sehelai kain dan membentangkannya, kemudian meletakan batu hajar aswad tersebut diatas kain itu. Setelah itu beliau meminta masing-masing kabilah yang berselisih memegang ujung kain dan mengangkatnya secara bersama-sama. Sesampainya tiba di tempat hajar aswad, Rasulullah SAW mengambil batu dan meletakan hajar aswad dengan tangan sendiri beliau. Tugas dan petunjuk dari Allah SWT untuk menjadi pemecah perselisihan kabilah Quraisy diberikan oleh Allah SWT pada tahun ketujuh sebelum beliau diangkat menjadi Rasul nya Allah SWT.



Powered by Blogger.