Sejarah Umrah Qadha


Sejarah Umrah Qadha merupakan umrah pengganti yang dilaksanakan pada bulan Dzul Qa’dah, sebagaimana dulu Rasulullah SAW bersama para Sahabat dan para kaum muslimin yang lainnya berangkat menuju kota Mekah. Selama di perjalanan kaum muslimin mendirikan tenda-tenda untuk beristirahat di daerah Hudaibyah yang mempunyai jarak sangat jauh dari kota Mekah.

Kemudian Rasulullaah SAW mengirimkan beberapa utusan untuk meminta ijin memasuki kawasan kota Mekah serta akan mengunjungi ka’bah. Namun tak lama kemudian ijin Nabi SAW tersebut ditolak oleh orang-orang Mekah yang kebetulan waktu itu para kabilah Quraisy yang menduduki kota Mekah tersebut. Masyrakat Quraisy tersebut telah menyusun rencana dan menyiapkan pasukan untuk mencegah Rasulullah SAW beserta para kaum muslimin yang ikut masuk dan mengunjugi kota Mekah.

Sejarah Umrah Qadha

Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan maksud dan tujuan kota Mekah bukan untuk berperang melainkan untuk melaksnakan ibadah umrah kepada Allah SWT, setelah lama berselisih dengan kaum Quraisy, munculah perjanjian yang bernama Hudaibyah yakni para kabilah Quraisy yang menduduki kota Mekah, pada saat itu memberikan beberapa syarat serta aturan kepada Rasulullah dan para kaum muslimin yang lainnya agar memasuki kota Mekah dengan tidak membawa senjata, terkecuali pedang yang berada dalam sarung atau bungkusnya, tidak boleh membawa penduduk Mekah yang ingin ikut bersama Rasulullah dan tidak boleh melarang para sahabat yang berniat ingin menetap di kota Mekah tersebut.

Selama dalam perjalanan umrah tersebut, Nabi Saw memberi keputusan kepada para sahabat untuk tetap tinggal di kota Mekah selama tiga hari, dan setelah itu harus melanjutkan perjalanannya lagi ke kota Madinah. Setelah itu para kaum muslimin beserta Rasulullah SAW melakukan kegiatan thawaf di Baitullah, Rasulullah tetap memberi nasihat kepada kaumnya agar selalu memperlihatkan kekuatan serta ketabahan dalam menunaikan thawaf, dan selalu bertekad dalam hatinya masing-masing untuk mencari keridhoan dari Allah SWT dalam melakukan umrah qadha tersebut.

Rasulullah memberi nasihat dan selalu mengingatkan kaumnya sebab telah terdengar kabar yang belum pasti kebenaranya yaitu kaum Quraisy telah menyebarkan berita bahwasannya kaum muslimin telah merasa lemah karena terserang wabah demam dari kawasan yatsrib. Para kaum muslimin berlari-lari kecil dan serta mempercepat langkah pada tiga putaran pertama pada saat melaksanakan thawaf. Sementara para kabilah Quraisy hanya menyaksikan di sebuah gunung yang bernama Gunung Qa’aiqian selama kaum muslimin melaksanakan thawaf di kota Mekah tersebut.

Rasulullah SAW mengerjakan umrahnya sebanyak empat kali yakni melaksanakan umrah yang bersamaan dengan ibadah haji, umrah Hudaibyah, umrah Qadha, dan melakanakan umrah ketiga dari Jiranah. Oleh karena itu untuk setiap para kaum muslimin boleh-boleh saja melaksanakan ibadah umrah dengan jumlah lebih dari satu kali, namun dalam pelaksanaan ibadah haji hanya wajib satu kali selama seumur hidup.
Powered by Blogger.