Thawaf Wada Yang Terakhir


Thawaf Wada merupakan sebagian dari tawaf terakhir yang dikerjakan ketika akan meninggalkan kota Mekkah, sedangkan hukumnya wajib, jika tidak mengerjakan maka harus membayar dam. Ibnu Thawus meriwayatkan dari ayahnya, dari Ibnu Abbas dia berkata “ Jemaah haji diperintahkan agar akhir masanya di Baitullah, namun hal itu diringankan bagi wanita haid”.

Thawaf Wada Yang Terakhir

Disunahkan juga melaksanakan shalat sunah thawaf sebanyak dua rakaat dan meminum air Zam-zam, jemaah haji dianjurkan untuk meresapinya, setelah itu mengunjungi Multazam dan berdo’a khusyu kepada Allah SWT meminta apa saja, menyangkut urusan akhirat maupun dunia dan tentunya dalam keadaan hati yang ikhlas dan bersih.

Pada saat thawaf wada jemaah haji pamit meninggalkan Mekkah al-Mukarramah yakni dengan mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali putaran. Kemudiaan jemaah haji menyalami hajar aswad, menciumnya, lalu keluar dari Masjidil Haram menghadap pintu dan tidak diperkenankan berjalan mundur sambil menghadap ka’bah. Kemudian menoleh sesekali ke ka’bah denagn penuh penghayatan karena akan berpisah dengannya. Dan berharap bisa kembali lagi berziarah ke ka’bah tempat rahmat dandiberikan ampunan oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda” Janganlah salah seorang dari kalian pergi sebelum akhir masanya di Baitullah (HR. Muslim dan Shahih). Dahulu Rasulullah SAW memberi salam perpisahan ke Baitullah usai melaksanakan seluruh rangakaian manasik haji dan hendak meninggalkan Mekkah “Ambilah manasik haji kalian dariku”. Hadist ini menunjukan hukum wajib thawaf wada bagi jemaah, terkecuali jemaah yang sedang haid atau nifas.

Menurut Madzhab Maliki thawaf wada hukumnya sunah, kemudian Ibnu Abbas membenarkannya dengan berkata “Barang siapa sengaja meningalkan manasik haji ataupun lupa, hendaklah dia menyembelih hewan”.
Menurut pendapat mayoritas ulama, thawaf wada’ketika akan meninggalkan Makkah hukumnya wajib.

Namun bila tidak dilakukan, hajinya tetap sah, dengan syarat, dia harus membayar dam, yaitu menyembelih seekor kambing.Bila tidak menemukan kambing, bisa berpuasa sepuluh hari, tiga hari saat haji dan tujuh hari ketika kembali ke Tanah Air. Puasa tiga hari saat haji tidak bisa terlaksana, kecuali pada hari Tasyriq atau pada bulan-bulan haji yang berakhir dengan usainya bulan Dzulhijjah.


Powered by Blogger.