Mengenal Cuaca dan Iklim Tanah Suci

Mengenal cuaca dan iklim tanah suci menurut sebagian besar orang bisa dibayangkan atau diterka, karena mengingat kondisinya yang memiliki gurun pasir luas serta pegunungan batu yang sangat banyak bisa menyimpulkan bahwa keadaan di tanah suci sangat panas. Padahal selain kondisinya yang panas, negeri arab memiliki cuaca yang jauh berbeda dengan Indonesia, sehingga diperlukan persiapan khusus saat akan menjalani ibadah haji atau umroh di tanah suci. Persiapan ini diperlukan untuk bisa memaksimalkan ibadah seperti tujuan saat beranjak dari negara Indonesia.

Mengenal Cuaca dan Iklim Tanah Suci

Cuaca dan iklim di negeri arab sangat ekstrim. Negeri ini memiliki 2 musim yaitu musim panas dan musim dingin. Dalam kondisi musim panas, bisa mencapai 55 derajat celcius sedangkan jika memasuki musim dingin bisa mencapai 5 derajat celcius dan bisa menimbulkan turun salju. Kondisi ini harus sangat diperhatikan, terutama di Indonesia yang memiliki iklim tropis jauh berbeda dengan keadaan di negeri arab. Meskipun mengalami kondisi musim dingin, di tanah suci tidak akan dijumpai musim hujan seperti di Indonesia yang sering dan bisa mengakibatkan banjir di beberapa daerah. Saat musim dingin, turun hujan bisa dihitung dengan jari, tidak lebih dari sepuluh kali. Kondisi ini sudah biasa oleh penduduk arab, namun untuk pendatang seperti jemaah haji atau umroh harus bisa menangani kondisi seperti ini dengan baik.

Karena ekstrimnya cuaca yang terjadi di negeri arab, pemerintah kerajaan membuat aturan untuk memberikan libur sekolah selama 3 bulan kepada siswa di negeri tersebut. Selain itu, hal yang harus dipersiapkan dalam menghadapi cuaca dan iklim seperti ini adalah persiapan pribadi sesuai dengan kondisi di tanah suci.

Ketika menghadapi musim panas, jamaah haji atau umroh yang datang harus mempersiapkan tisu jika terjadi pendarahan yang keluar dari hidung atau yang disebut dengan mimisan. Hal ini dilakukan sebagai tindakan pertama jika tidak menemukan air dan tidak mengotori barang yang ada di sekitar lingkungan ibadah. Sedangkan saat musim dingin, jamaah harus mempersiapkan pakaian hangat untuk menjaga kondisi tubuh.

Persiapan ini tentu harus diperkirakan sebelum keberangkatan ke tanah suci. Kondisi cuaca dan iklim yang ekstrim ini bisa saja mengganggu ibadah yang dilaksanakan. Di tanah suci sedikit ditemui kebun atau tanaman seperti di Indonesia, sebagian besar daerah adalah hamparan luas tanpa atap yang langsung mengenai cahaya matahari atau jika musim dingin langsung terkena hujan. Cuaca ekstrim membuat penduduk arab lebih kebal dan terbiasa serta memiliki kondisi tubuh yang lebih kuat saat melakukan kegiatan sehari-hari atau sedang melaksanakan ibadah. Berbeda dengan jamaah Indonesia, persiapan tidak hanya dengan menyiapkan barang-barang saja, juga kondisi tubuh yang dipersiapkan jauh sebelum keberangkatan.
Powered by Blogger.