Perjalanan Menuju Masjidil Haram

Perjalanan menuju masjidil haram akan sangat ringan karena dengan niat untuk beribadah. Beribadah di Masjidil Haram menjadi tujuan utama para jamaah haji dan umroh terutama dari Indonesia. Betapa tidak, banyaknya keutamaan yang didapat disaat seseorang melaksanakan ibadah di masjid ini. Dengan biat saja sudah mendapatkan pahala. Namun, ternyata ada sebagian jamaah haji atau umroh yang tidak mementingkan beribadah di Masjidil Haram. Mereka menganggap bahwa Masjidil Haram adalah seperti mesjid-mesjid yang lainnya yang ada di Kota Mekah, tidak ada keutamaan atau tidak ada yang menarik, semuanya dianggap biasa. Namun dibalik semua anggapan itu, Masjidil Haram memiliki sejarah yang begitu hebat dan patut untuk diketahui oleh umat muslim.

Perjalanan Menuju Masjidil Haram

Anggapan seperti itu didapat para jamaah dari pihak yang menyelenggarakan ibadah haji, dengan alasan untuk tidak mendengar keluhan dari para jamaah yang merasa pemondokannya jauh dari Masjidil Haram. Memang, kelompok pemondokan jamaah haji dibagi menjadi beberapa ring (kelompok). Pemberian Ring ini untuk memudahkan penyelenggara ibadah haji atau pemerintah dalam menentukan jarak pemondokan dan hal yang harus dilakukan sebagai solusinya. Karena tiap tahunnya jamaah haji tidak hanya dari Indonesia saja, hampir seluruh negara memberangkatkan penduduknya yang berniat untuk menjalankan ibadah haji ke tanah suci.

Dengan permasalahan jarak pemondokan, pemerintah sebenarnya telah memberikan fasilitas untuk para jamaah tersebut yaitu dengan diadakannya shuttle bus gratis dari berbagai asal pemondokan. Karena tidak mungkin setiap jamaah Indonesia akan ditempatkan di pemondokan yang dekat dengan Masjidil Haram. Selain itu, jamaah yang memang berniat untuk melaksanakan ibadah di Masjidil Haram tak perlu bingung ataupun segan dengan jarak tempuh yang harus dilalui. Di negeri Arab, jamaah bisa mendapatkan transportasi umum dengan mudah yang akan menuju ke Masjidil Haram, dan tarif yang dipatok rata-rata adalah sekitar 2 riyal, tergantung kepada kepandaian jamaah untuk bernegosiasai dengan sang sopir.


Bahkan jika tidak menemukan taksi atau kendaraan umum lainnya, jamaah bisa menggunakan transportasi yang ada. Setiap penduduk sudah terbiasa untuk mengantarkan jamaah dari manapun ke Masjidil Haram, dan tidak jarang pula mereka memberikan tumpangan gratis sampai ke Masjidil Haram. Terkadang sebagian jamaah yang berada di pemondokan yang lumayan jauh dari Masjidil Haram bisa berjalan kaki dengan memandangi keindahan sekitar pemondokan atau jalan yang dilalui. Semuanya tidak terasa dengan keindahan yang disuguhkan. Ditambah jika di setiap jalan adalah pertokoan yang berjejer tentu akan semakin membuka mata.

Dengan berjalan kaki, tak perlu takut untuk kehilangan jejak atau tersesat. Setiap jamaah bisa menjadikan Abrajul Bait sebagai patokan menuju Masjidil Haram, karena Masjidil Haram berada tepat di bawah gedung ini.
Powered by Blogger.