Miqat Makani Jamaah Umroh

Posisi miqat bagi jamaah umroh berada pada tempat yang berbeda jika berdasarkan pada miqat makani (berdasarkan tempat /letak geografis). Miqat merupakan batas sekaligus tempat bagi jamaah umroh atau haji untuk mengambil niat untuk berihram dan memulai melaksanakan ibadah haji atau umroh. Jika telah melintasi miqat maka hal-hal yang awalnya halal bisa menjadi haram. Miqat untuk jamaah yang berhaji adalah sebagaimana hadits Rasulullah SAW, “Bahkan miqat penduduk Mekah adalah dari Mekah.” Karena umat Islam yang melaksanakan ibadah haji atau umroh tidak hanya dari kota Mekah saja maka miqat mereka ada pada batasan yang berbeda-beda.

Miqat Makani Jamaah Umroh

Seperti halnya yang dilakukan oleh Aisyah RA untuk melaksanakan umroh setelah haji Qiran yang dilakukan bersama Rasulullah SAW dan saudara laki-laki Aisyah, Abdurrahman bin Abu Bakar. Aisyah dan saudara laki-lakinya harus pergi ke daerah diluar tanah haram untuk mengambil niat yaitu di Tan’im. Kondisi ini mengartikan bahwa Mekkah bukanlah miqat untuk berumroh. Sedangkan untuk berhaji, penduduk yang tinggal di kota Mekkah maka miqatnya adalah dimulai dari tempat tinggalnya tersebut atau di Mekah.

Miqat makani berdasarkan pada letak geografis ketika jamaah yang bersangkutan melewatinya. Jika jamaah bertempat tinggal di Mekkah maka miqatnya adalah harus keluar dari kota Mekkah, dengan mendatangi daerah terdekat seperti Tan’im, Ji’ranah dan Hudaibiyah. Bagi penduduk yang berasal atau datang dari arah Madinah maka miqatnya adalah Dzul Hulaifah (Bier Ali) yang berjarak 12 km dari Madinah.

Bagi jamaah yang datang dari arah Syam, Mesir, Maroko dan daerah sekitarnya maka miqatnya adalah di Juhfah yang berada di 187 km kota Mekah. Qarnul manazil adalah salah satu miqat bagi penduduk Najed yang letaknya berada di sebelah timur Mekah dengan jarak 94 km, tempat ini merupakan sebuah bukit. Dan yang terakhir adalah miqat Yalamlam untuk jamaah yang berasal dari Yaman dan Asia, ditambah dengan Dzatu ‘Irq bagi jamaah yang datang dari arah Iraq, miqat ini berjarak 94 km dari Mekkah.

Miqat-miqat yang disebutkan pada penjelasan di atas semuanya sesuai dengan ketetapan Nabi Muhammad SAW yang terdapat dalam hadits-hadits Bukhari, Muslim dan lainnya. Miqat tersebut tidak hanya bagi jamaah asli bertempat tinggal di daerah tersebut, tetapi juga untuk jamaah-jamaah yang melewatinya. Jika miqat makani merupakan tempat miqat berdasarkan tempat dan letak geografis, maka adapula miqat zamani yang penetapannya dilakukan berdasarkan waktu. Miqat haji dilakukan pada bulan-bulan yang telah dimaklumi, sebagaimana firman Allah AWT dalam Surat Al-Baqoroh ayat 197: “(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi…,”. Sedangkan untuk miqat umroh bisa dilakukan pada saat umroh bisa dilaksanakan.
Powered by Blogger.