Sejarah Bir Thaflah

Bir thaflah merupakan salah satu peninggalan sejarah Islam yang saat ini banyak dikunjungi oleh jamaah yang datang ke tanah suci. Bir thaflah berada di Ji’ranah yaitu suatu kampung yang dijadikan sebagai miqat bagi jamaah yang akan melaksanakan ihram. Letak sumur Bir Thaflah tidak jauh dari masjid Ji’ranah dan diyakini oleh sebagian umat muslim akan keistimewaan air dari sumur tersebut yang dianggap bisa menyembuhkan segala penyakit.

Sejarah Bir Thaflah

Beberapa sejarah menyatakan bahwa sumur Bir Thaflah adalah merupakan mukjizat dari Rasulullah SAW, dimana pada saat itu Nabi Muhammad SAW beserta rombongan kehabisan air ketika dalam perjalanan untuk membagikan kemenangan dengan memberikan harta ghanimah kepada para penduduk setelah berperang dalam Perang Hunain. Saat itu rombongan melewati Ji’ranah, karena kekurangan air kemudian Rasulullah SAW memukulkan tongkatnya dan keluarlah air dalam tanah yang menjadi awal terbentuknya sumur ini.

Sejak itu sumur Bir Thaflah tidak pernah kering dan selalu banyak dikunjungi karena anggapan keistimewaannya tersebut bahwa air dari sumur Bir Thaflah bisa menyembuhkan penyakit. Namun untuk menghindari kemusyrikan dan perlakuan yang berkelanjutan terhadap sumur tersebut, pemerintah Arab Saudi memasang pengumuman di dekat sumur dengan tulisan menerangkan bahwa air di sumur Bir Thaflah adalah air biasa seperti pada umumnya tidak memiliki keistimewaan seperti yang dianggap oleh kebanyakan orang.

Namun untuk saat ini sumur tersebut telah ditutup oleh kerajaan Arab Saudi. Bir Thaflah menjadi salah satu sumur yang memiliki rasa tawar di tempat tersebut, padahal sebelumnya sangat sulit untuk mendapatkan air tawar di tempat ini.

Ji’ranah merupakan sebuah kampung yang memiliki banyak tempat ziarah dan tempat bersejarah, seperti sumur Bir Thaflah ini. Nama Ji’ranah sendiri diambil dari salah satu perempuan yang mengabdi untuk menjaga kebersihan di salah satu masjid di kampung tersebut. Jarak dari tanah suci Mekkah ke Ji’ranah hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan jarak 28 km. Ji’ranah dijadikan sebagai salah satu tempat miqat makani bagi jamaah umroh yang akan melakukan ihram.

Pada saat Rasulullah SAW selesai membagikan harta kemenangan dari Perang Hunain, kemudian Beliau bersama rombongan melakukan ihram mulai dari tempat tersebut untuk melaksanakan ibadah umroh. Sehingga bagi jamaah yang melewati kampung ini maka harus memakai kain ihram dan berniat untuk melakukan ihram. Selain Ji’ranah memang terdapat beberapa tempat lain yang digunakan untuk melakukan miqat dan tidak ada yang membedakan miqat di Ji’ranah dengan miqat di tempat lainnya. Hanya saja dalam sebuah riwayat menyatakan bahwa Ji’ranah memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan tempat miqat lainnya.
Powered by Blogger.