Sejarah Pintu Darun Nadwah

Pintu Darun Nadwah atau Dar Al-Nadwah merupakan pintu yang berada dekat di tempat tawaf dan memiliki cerita sejarah yang hampir sama dengan Dar al-Arqam (Darul Arqam) yang berada di tempat Sa’I dekat dengan Shafa. Darun Nadwah pada mulanya merupakan sebuah rumah yang dibangun pada masa awal perkembangan Islam yang didirikan sekitar 200 tahun yang lalu oleh Qusay ibn Kilab. Yang membedakan Darul Arqam dan Darun Nadwah adalah Darul Arqam merupakan tempat berkumpulnya Nabi Muhammad SAW beserta dengan para pengikutnya yang telah masuk Islam secara sembunyi-sembunyi, sedangkan Darun Nadwah adalah tempat berkumpulnya orang-orang Quraisy dalam melakukan rapat.

Sejarah Pintu Darun Nadwah

Tujuan utama dari perkumpulan dan permusyawarahan kaum Quraisy tidak lain adalah untuk menghalangi berlangsungnya dakwah Islam dan membunuh Nabi Muhammad SAW. Segala cara dilakukan oleh kaum Quraisy agar bisa memenuhi keinginannya, sehingga pada suatu hari dilakukan rapat tertutup yang dihadiri oleh kepala-kepala dari kota Mekah. Semua yang hadir adalah tamu undangan secara langsung, karena tidak diperbolehkan satu orang pun masuk jika tidak ada undangan secara resmi. Beberapa kepala kabilah tidak diundang pada rapat tersebut dengan alasan karena yang bersangkutan tidak akan bisa diajak bermusyawarah untuk kepentingan yang satu ini. Yaitu suku Bani Hasyim dan Bani Muthalib.

Rencana-rencana yang dibuat oleh kaum Quraisy adalah untuk mengahalangi para sahabat dan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam dilakukan ketika sahabat keluar dari rumah dan diikuti oleh Nabi Muhammad SAW. Karena jika Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah ke Madinah (Yatsrib) maka akan menjadi bumerang bagi kaum Quraisy. Kaum Quraisy melakukan perdagangan di Syam sepanjang jalur perdagangan di kota Yatsrib, hal ini akan berdampak negative jika pusat dakwah Islamiyah telah berpindah ke Yatsrib dan terjadi perseteruan antara kaum Quraisy dan penduduk Yatsrib. Namun rencana pembunuhan yang akan dilakukan oleh kaum Quraisy tidak membuahkan hasil. Atas kehendak Allah SWT, Rasulullah SAW bisa keluar dari rumah dan melakukan hijrah ke Madinah.

Rumah ini tidak hanya digunakan untuk memusyawarahkan cara menghentikan dakwah Islam tetapi juga untuk memusyawarahkan kepentingan-kepentingan kaum Quraisy lainnya. Beberapa para sahabat nabi yang memimpin kota Mekah pernah mendiami Darun Nadwah seperti Umar bin Khatab ketika menjabat sebagai khalifah kedua yang diteruskan oleh khalifah-khalifah setelahnya. Namun pada tahun 284 H/897 M, bangunan tersebut diruntuhkan pada masa al-Mu’tadlid dari Dinasti Abbsiyah untuk kepentingan perluasan Masjidil Haram.

Awalnya letak bangunan tersebut sangat dekat dengan tempat thawaf, itulah mengapa pintu di dekat tempat thawaf dinamakan dengan Darun Nadwah. Tujuaannya adalah untuk memperingati bangunan Darun Nadwah yang dulu berdiri di atasnya.
Powered by Blogger.